Indonesian

 

 

 

Frederick Engels

Sosialisme:

Utopis dan Ilmiah

1880

 

Mula-mula diterbitkan dalam edisi Inggris dari tulisan Engels Socialism: Utopian and Scientific (Sosialisme: Utopis dan Ilmiah) yang terbit di London dalam tahun 1892.

Dicetak bersamaan waktu di Jerman dalam majalah Neue Zeit untuk 1892-1893.

Dicetak menurut naskah edisi Inggris tahun 1892. Ditulis dalam bahasa Inggris.

 

 

 

 

Introduksi

Khusus Pada Edisi Inggris Tahun 1892

 

 

Buku kecil ini, semula, adalah sebagian dari suatu keseluruhan yang lebih besar. Kira-kira pada tahun 1875, Dr. E. Dühring, privatdocent[1] pada Universitas Berlin, sekonyong-konyong dan dengan agak ramai-ramai mengumumkan pembalikannya kepada Sosialisme, dan menjadikan kepada khalayak-ramai Jerman tidak hanya suatu teori sosialis yang teliti-rapi, tetapi juga suatu rencana praktis yang lengkap untuk mereorganisasi masyarakat. Sudah barang tentu, dia menyerang pendahulu-pendahulunya; di atas segala-galanya dia menghormati Marx dengan melampiaskan kemarahannya kepadanya.

Hal ini terjadi kira-kira pada waktu kedua seksi dari Partai Sosialis di Jerman — kaum Eisenacher dan kaum Lasallean[2] — baru saja melaksanakan fusi mereka dan dengan begitu tidak hanya mendapat penambahan kekuatan yang sangat besar tetapi, bahkan, kemampuan untuk mempergunakan seluruh kekuatan ini terhadap musuh bersama. Partai Sosialis di Jerman cepat menjadi suatu kekuatan. Tetapi untuk menjadikannya suatu kekuatan, syarat pertama ialah bahwa persatuan yang baru direbut itu jangan dibahayakan. Dan Dr. Dühring dengan terang-terangan terus membentuk di sekitarnya sendiri suatu sekte, inti bakal Partai yang tersendiri. Dengan begitu perlulah menerima tantangan yang diajukan kepada kita, dan melakukan perjuangan apakah kita suka atau tidak.

Akan tetapi hal ini, meskipun mungkin bukan suatu pekerjaan yang terlalu sukar, namun terang sekali suatu pekerjaan yang berlarut-larut. Sebagaimana diketahui, kami orang-orang Jerman adalah orang-orang yang mempunyai sifat Grünlichkeit (ketelitian) yang sangat lembam, kedalaman yang radikal atau keradikalan yang mendalam, apa saja orang mungkin mau menamakannya. Bilamanapun seseorang dari kami menguraikan apa yang dia anggap ajaran baru, dia pertama-tama harus mengerjakannya dengan teliti menjadi suatu sistem yang meliputi segala-galanya. Ia harus membuktikan bahwa baik prinsip-prinsip pertama dari logika maupun hukum-hukum fundamentil dari alam-dunia telah ada untuk selama-lamanya dengan maksud tiada lain daripada untuk pada akhirnya menuju ke teori yang memahkotai, yang baru ditemukan ini. Dan Dr. Dühring, dalam hal ini, memenuhi sekali tuntutan nasional itu. Tiada kurang daripada sebuah buku “Sistem Filsafat” yang lengkap, mental, moral, alam dan sejarah; sebuah buku “Sistem Ekonomi Politik dan Sosialisme” yang lengkap: dan, akhirnya, “Sejarah Kritis dari Ekonomi Politik” — tiga jilid besar dalam oktavo, berat dalam bentuk dan isi, tiga korps-tentara argumen-argumen yang dimobilisasi untuk melawan semua ahli filsafat dan ahli ekonomi terdahulu pada umumnya, dan untuk melawan Marx pada khususnya — sebenarnya suatu percobaan untuk mengadakan suatu “revolusi dalam ilmu” yang sempurna — hal-hal inilah yang harus saya tandangi. Saya harus membicarakan semua dan setiap pokok pembicaraan yang mungkin, dari konsepsi-konsepsi tentang waktu dan ruang sampai pada Bimetallisme (sistem penggunaan dua logam — emas dan perak — sebagai standar nilai uang,Red. JP); dari keabadian materi dan gerak sampai pada sifat fana dari ide-ide moril; dari seleksi alamiah Darwin sampai pada pendidikan pemuda dalam masyarakat masa depan. Bagaimana juga, keluasan yang sistematis dari lawan saja memberikan kesempatan kepada saya untuk mengembangkan, dalam melawan dia, dan dalam bentuk yang lebih berangkaian daripada yang telah dilakukan sebelumnya, pandangan-pandangan yang dipertahankan oleh Marx dan saya sendiri mengenai soal-soal yang sangat aneka warna ini. Dan itulah alasan pokok yang memaksa saya memikul tugas yang dalam hal lain tak tahu terimakasih ini.

Jawaban saya mula-mula diterbitkan dalam suatu seri artikel dalam “Vorwärts” Leipzig, organ utama Partai Sosialis,[3] dan kemudian sebagai buku: “Herrn Eugen Dührings Umwälzung der Wissenschaft” (“Revolusi dalam Ilmu” dari Tuan E. Dühring), yang edisinya yang kedua terbit di Zürich, 1886.

Atas permintaan teman saya, Paul Lafargue, sekarang wakil Lille dalam Dewan Perwakilan Perancis, saya susun tiga bab dari buku itu sebagai brosur, yang dia terjemahkan dan terbitkan dalam tahun 1880 dengan judul: “Socialisme utopique et Socialisme scientifique” (Sosialisme utopis dan Sosialisme Ilmiah). Dari naskah bahasa Perancis ini disiapkan edisi Polandia dan Spanyol. Dalam tahun 1883, teman-teman Jerman kita mengeluarkan brosur itu dalam bahasa aslinya. Sejak itu diterbitkan terjemahan Italia, Rusia, Denmark, Belanda dan Rumania, berdasarkan naskah Jerman. Dengan begitu, dengan edisi Inggris ini, buku kecil ini beredar dalam sepuluh bahasa. Setahu saya tak ada sesuatu karya sosialis lainnya, bahkan “Manifes Komunis” kami tahun 1848 atau “Kapital” Marx sekalipun, yang telah begitu sering diterjemahkan. Di Jerman telah ada empat edisi dari kira-kira 20.000 eksemplar seluruhnya.

Lampiran “Mark”,[4] ditulis dengan maksud untuk menyebarkan di kalangan Partai Sosialis Jerman sesuatu pengetahuan elementer tentang sejarah dan perkembangan milik tanah di Jerman. Hal ini kiranya lebih-lebih perlu pada waktu ketika asimilasi Rakyat pekerja di kota-kota oleh partai itu mendekati selesai dan ketika kaum buruh pertanian dan kaum tani harus digarap. Lampiran ini dimasukkan ke dalam terjemahan, karena bentuk-bentuk asli dari hak milik tanah yang umum bagi semua suku Teuton, dan sejarah kelapukan mereka lebih kurang dikenal lagi di Inggris daripada di Jerman. Saya biarkan teks itu sebagaimana adanya dalam aslinya, tanpa menyinggung-nyinggung hipotese yang baru-baru ini dimulai oleh Maxim Kowalevski, yang menurut hipotese itu pembagian tanah-tanah garapan dan padang-rumput di kalangan anggota-anggota Mark didahului oleh penggarapan tanah-tanah itu atas tanggungan bersama oleh persekutuan hidup keluarga patriarkal yang besar yang merangkum beberapa generasi (seperti yang dipercontohkan oleh Zadruga Slavonia Selatan yang masih ada), dan bahwa pembagian itu kemudian berlangsung ketika persekutuan hidup telah menjadi besar, sehingga menjadi terlalu kikuk bagi pengurusan atas tanggungan bersama. Kowalevski mungkin benar sekali, tetapi soalnya masih sub judice.[5]

Istilah-istilah ekonomi yang dipergunakan dalam karya ini, sebegitu jauh masih baru, adalah sesuai dengan istilah-istilah yang dipergunakan dalam Kapital Marx edisi Inggris. Kita namakan “produksi barang dagangan” fase ekonomi di mana barang-barang dihasilkan tidak hanya untuk dipergunakan kaum produsen, tetapi juga untuk maksud-maksud pertukaran; yaitu, sebagai barang dagangan, bukan sebagai nilai-nilai pakai. Fase ini merentang dari mula-pertama produksi untuk pertukaran sampai pada zaman kita sekarang; ia mencapai perkembangannya yang sepenuhnya hanya di bawah produks kapitalis, yaitu di bawah syarat-syarat di mana kapitalis, pemilik alat-alat produksi, mempekerjakan, dengan upah, kaum buruh, orang-orang yang terampas segala alat produksinya kecuali tenaga-kerja mereka sendiri, dan mengantongi kelebihan harga penjualan barang-barang-hasil di atas pengeluarannya. Kita bagi sejarah produksi industri sejak Abad Pertengahan menjadi tiga periode: (1) kerajinan tangan, tukang-tukang ahli kecil dengan beberapa tukang-pembantu dan magang di mana setiap buruh menghasilkan barang jadi; (2) manufaktur, di mana jumlah pekerja yang lebih besar berkumpul dalam satu bangunan besar, menghasilkan barang jadi berdasarkan prinsip pembagian kerja, masing-masing pekerja melakukan hanya satu bagian pekerjaan, sehingga barang-hasil itu selesai baru sesudah berturut-turut melalui tangan semuanya; (3) industri modern, di mana barang-hasil dihasilkan dengan mesin-mesin yang dijalankan oleh tenaga listrik dan di mana kerja si buruh terbatas pada mengawasi serta membetulkan kerjanya alat mesin.

Saya tahu betul bahwa isi karya ini akan menemui keberatan-keberatan dari sebagian besar publik Inggris. Tetapi jika kami orang-orang Kontinen sedikit saja memperhatikan prasangka-prasangka “kaum terhormat” Inggris, kami lebih jelek lagi keadaannya daripada kami sekarang. Buku ini membela apa yang kami namakan “materialisme histori” dan perkataan materialisme menyakitkan telinga mayoritet yang sangat besar dari para pembaca Inggris. “Agnostisisme"[6] bisa dibiarkan, tetapi materialisme sama sekali tak dapat diterima.

Tapi toh tanah air asli dari segala materialisme modern, dari abad ke-17 seterusnya, adalah Inggris.

“Materialisme” adalah anak kandung Inggris Raya. Sudah sejak skolastikus (ahli filsafat abad pertengahan) Inggris, Duns Scotus, bertanya ‘apakah tidak mungkin bagi materi untuk berpikir?'

Untuk melaksanakan keajaiban ini, ia berlindung kepada kemahakuasaan Tuhan, yaitu, ia menyuruh teologi (ilmu ke-Tuhanan) mengkhotbahkan materialisme. Lagipula ia adalah seorang nominalis. Nominalisme,[7] bentuk pertama materialisme, terutama terdapat di kalangan para skolastikus Inggris.

Datuk yang sebenarnya dari materialisme Inggris adalah Bacon. Baginya filsafat alam adalah satu-satunya filsafat yang benar dan ilmu fisika yang berdasarkan pengalaman pancaindera adalah bagian yang terpenting dari filsafat alam. Anaxagoras dengan homoiomeriaenya, Democritus dengan atomnya, sering dikutipnya sebagai sumber-sumbernya. Menurut dia pancaindera tak dapat salah dan sumber dari segala pengetahuan. Semua ilmu adalah berdasarkan pengalaman dan berupa penerapan metode penyelidikan yang rasionil pada bahan-bahan yang diberikan oleh pancaindera. Induksi, analisa, pembandingan, pengamatan, eksperimen, adalah bentuk-bentuk pokok dari metode rasionil sedemikian itu. Di antara sifat-sifat yang terkandung dalam materi, gerak adalah yang pertama dan terutama, tidak hanya dalam bentuk gerak mekanis dan matematis, tetapi terutama dalam bentuk suatu impulsi (dorongan), semangat-hidup, ketegangan — atau ‘qual’, menggunakan istilah Jakob Böhme[8] — dari materi.

Pada Bacon, penciptanya yang pertama, materialisme masih menutupi di dalam dirinya benih-benih perkembangan yang banyak-segi. Di satu pihak, materi, yang dikelilingi oleh kilauan kepancainderaan yang puitis, nampaknya menarik seluruh kesatuan manusia dengan senyum yang menambat hati. Di lain pihak, ajaran yang dirumuskan secara aforis (bersifat pepatah) itu digerumuti dengan ketidakkonsekuenan-ketidakkonsekuenan yang diimpor dari teologi.

Dalam evolusinya lebih lanjut materialisme menjadi berat sebelah. Hobbes-lah orang yang mensistematiskan materialisme Bacon. Pengetahuan yang berdasarkan pancaindera kehilangan bunga puitisnya, ia menjadi pengalaman yang abstrak dari seorang matematikus; geometri diproklamasikan sebagai ratu ilmu. Materialisme mulai suka pada misantropi (kebencian kepada manusia — Red. JP). Jika ia hendak mengatasi lawannya, spiritualisme tak berdaging yang misantropis, dan itu di tanah lawannya sendiri, materialisme harus mendera badannya sendiri dan menjadi pertapa. Dengan demikian, dari keadaan sensuil ia menjadi keadaan intelektuil; tetapi dengan demikian pula ia mengembangkan segala kekonsekuenan, dengan tak mempedulikan konsekuensi-konsekuensi, yang khas bagi intelek.

Hobbes, sebagai penerus Bacon, berdalil demikian: jika semua pengetahuan manusia diberikan oleh pancaindera, maka konsepsi-konsepsi dan ide-ide kita hanyalah maya (khayalan), yang terlepas dari bentuk-bentuk sensuilnya, dari dunia nyata. Filsafat hanya dapat memberikan nama-nama kepada maya-maya ini. Satu nama dapat dipakai untuk lebih daripada satu diantaranya. Bahkan mungkin ada nama-nama dari nama-nama. Ini akan berarti suatu kontradiksi jika, di satu pihak, kita mempertahankan bahwa semua ide berasal dari dunia sensasi dan, di pihak lain, bahwa sepatah kata adalah lebih daripada sepatah kata; bahwa di samping keadaan-keadaan yang kita kenal dengan pancaindera kita, keadaan-keadaan yang adalah satu dan semua individu, ada juga keadaan-keadaan yang bersifat umum, tidak bersifat individuil. Suatu substansi yang tak berbadan adalah sama tidak masukakalnya seperti badan yang tidak berbadan. Badan, keadaan, substansi, hanyalah istilah-istilah yang berbeda-beda untuk realitet yang sama. Tidaklah mungkin memisahkan pikiran dari materi yang berpikir. Materi ini adalah alas dari segala perubahan yang berlaku di dunia. Kata tak terbatas tak berarti, kalau ia tidak menyatakan bahwa pikiran kita sanggup melakukan proses penambahan yang tiada akhirnya. Karena hanya hal ihwal-hal ihwal materiil yang dapat kita persepsikan, maka kita tidak dapat mengetahui sesuatu pun tentang adanya Tuhan. Hanya adanya saja sendirilah yang pasti. Setiap nafsu manusia adalah gerakan mekanis yang mempunyai awal dan akhir. Obyek-obyek dorongan-hati adalah apa yang kita namakan baik. Manusia tunduk kepada hukum-hukum yang sama seperti alam. Kekuasaan dan kemerdekaan adalah identik.

Hobbes telah mensistematiskan Bacon, akan tetapi tanpa memberikan suatu bukti kepada prinsip fundamentil Bacon, bahwa sumber semua pengetahuan manusia itu adalah dunia sensasi. Locke-lah yang dalam tulisannya ‘Essai tentang Pengertian Manusia’ memberikan bukti ini.

Hobbes telah menghancurkan prasangka-prasangka teistis[9] dari materialisme Bacon; Collins, Dodwell, Coward, Hartley, Priestley juga menghancurkan rintangan-rintangan teologi yang terakhir yang masih mengepung sensasionalisme Locke. Biar bagaimana juga, bagi kaum materialis praktis, Deisme[10] hanyalah jalan yang gampang-gampangan untuk melepaskan diri dari agama."[11]

Demikianlah Karl Marx menulis tentang asal-usul materialisme modern Inggris. Jika orang-orang Inggris sekarang ini — justru tidak menikmati komplimen (pujian) yang dia berikan kepada leluhur mereka, lebih-lebih lagi sayangnya. Biarpun demikian tidaklah dapat dipungkiri bahwa Bacon, Hobbes dan Locke adalah bapak-bapak mazhab yang gemilang dari kaum materialis Perancis yang membuat abad ke-18, kendatipun segala pertempuran di darat dan di laut di mana orang-orang Perancis dikalahkan oleh orang-orang Jerman dan Inggris, suatu abad Perancis yang unggul, bahkan sebelum Revolusi Perancis yang memahkotai itu, yang dengan hasil-hasilnya itu kita orang-orang luar, baik di Inggris maupun di Jerman, masih mencoba membiasakan diri.

Ini tak dapat disangkal. Kira-kira pertengahan abad ini, yang menyolok bagi setiap orang asing beradab yang menetap tinggal di Inggris, ialah apa yang dia pada waktu itu pasti anggap kegila-gilaan keagamaan dan kebodohan dari kelas-tengah Inggris yang patut dihormati itu. Kita semua pada waktu itu adalah kaum materialis atau, sekurang-kurangnya, kaum vrij-denker yang sangat maju dan bagi kita rasanya tak terbayangkan bahwasanya hampir semua orang yang terpelajar di Inggris masih percaya kepada segala macam keajaiban yang mustahil dan bahkan geologis-geologis seperti Buckland dan Mantell memutarbalikkan fakta-fakta ilmu mereka agar supaya tidak begitu banyak bentrok dengan mithe-mithe dari kita Genesis (Kitab Kejadian); sedang, untuk menemukan orang-orang yang berani menggunakan bakat-bakat intelek mereka sendiri mengenai soal-soal keagamaan, orang harus pergi ke kalangan kaum tak terpelajar, “bagian besar yang belum dicuci”, sebagaimana mereka dinamakan pada waktu itu, Rakyat pekerja, terutama kaum sosialis Owenis.

Tetapi sejak itu Inggris telah “diperadabkan”. Pameran tahun 1851 membunyikan lonceng kematian bagi keeksklusifan secara insuler dari Inggris. Inggris secara berangsur-angsur menjadi diinternasionalisasi, dalam makanan, dalam tata cara, dalam ide-ide, sedemikian banyaknya sehingga saya mulai mengharap bahwa beberapa tata cara dan kebiasaan Inggris membuat begitu banyak kemajuan di Kontinen seperti halnya kebiasaan-kebiasaan Kontinen lainnya di sini. Bagaimanapun juga, masuk dan tersebarnya minyak-selada (sebelum tahun 1851 hanya dikenal oleh kaum ningrat) telah diikuti oleh perluasan yang fatal dari skeptisisme Kontinen dalam soal-soal keagamaan, dan telah sampai sebegitu jauh, bahwa agnostisisme, meskipun belum dianggap sebagai “sesuatu” yang sebegitu rupa seperti Gereja Inggris, namun telah hampir setaraf dengan Baptisme, sebegitu jauh mengenai kehormatan, dan pasti menduduki tempat di atas Bala-Keselamatan. Dan saya harus percaya bahwa di bawah keadaan demikian ini akan terhibur banyak orang yang dengan tulus menyesali dan menghukum kemajuan dari ketidakpercayaan ini mendengar bahwa “gagasan-gagasan model baru” ini tidak berasal dari luar negeri, bukan “dibikin di Jerman”, seperti begitu banyak barang-barang keperluan sehari-hari lainnya, tetapi tidak ragu-ragu dari Inggris Lama, dan bahwa pencipta-pencipta Inggris mereka itu dua ratus tahun yang lalu telah lebih jauh daripada yang berani dilakukan oleh anak cucu mereka sekarang.

Apakah, sesungguhnya, agnostisisme itu kecuali, menggunakan istilah Lancashire yang ekspresif, materialisme yang “kemalu-maluan"? Konsepsi agnostikus tentang Alam adalah seluruhnya materialis. Seluruh dunia alam dikuasai oleh hukum dan sama sekali menutup kemungkinan campur tangan aksi dari luar. Tetapi, ia menambahkan, kita tidak mempunyai alat baik untuk memastikan maupun untuk menyangkal adanya sesuatu Yang Maha kuasa di luar alam-dunia yang telah dikenal. Baiklah, ini mungkin benar pada waktu itu ketika Laplace, atas pertanyaan Napoleon, mengapa dalam buku ahli ilmu perbintangan Mécanique céleste[12] yang besar itu sama sekali tidak disebut-sebut Pencipta, dengan angkuh menjawab: “Je n’avais pas besoin de cette hypothèse.”[13]Tetapi dewasa ini, dalam konsepsi evolusioner kita tentang alam-dunia, sama sekali tidak ada tempat baik bagi seorang Pencipta maupun seorang Penguasa; dan berbicara tentang Yang Maha kuasa yang terasing dari seluruh dunia yang ada, berarti suatu kontradiksi dalam istilah-istilah dan, sebagaimana tampaknya bagi saya, suatu penghinaan yang tak beralasan terhadap perasaan-perasaan orang-orang yang beragama.

Lagi, agnostikus kita itu mengakui bahwa segala pengetahuan kita berdasarkan informasi yang diberikan kepada kita oleh pancaindera kita. Tetapi, ia menambahkan, bagaimana kita tahu bahwa pancaindera kita memberikan kepada kita gambaran yang tepat dari benda-benda yang kita persepsi melalui pancaindera itu? Dan dia meneruskan memberitahukan kepada kita bahwa, kapan saja ia berbicara tentang benda-benda atau kualitet-kualitetnya, pada hakikatnya ia tidak memaksudkan benda-benda dan kualitet-kualitet ini, yang tidak dapat ia ketahui sesuatunya dengan pasti, tetapi hanyalah kesan-kesan yang telah mereka timbulkan pada pancainderanya. Baiklah, garis pendalilan ini niscaya rasanya sukar dikalahkan hanya dengan argumentasi belaka. Tetapi sebelum ada argumentasi sudah ada aksi. Im Anƒang war die Tat.[14] Dan tindakan manusia telah memecahkan kesukaran itu jauh sebelum kecerdikan manusia menemukannya. Pengecapan puding adalah ketika dimakan. Dari saat kita mengubah benda-benda ini untuk kita pergunakan sendiri, menurut kualitet-kualitet yang kita persepsi pada benda-benda itu, maka kita mengadakan ujian yang pasti akan kebenaran atau kesalahan persepsi pancaindera kita. Jika persepsi-persepsi ini salah, maka penilaian kita mengenai kegunaan untuk mana suatu benda bisa diubah mesti salah pula, dan percobaan kita mesti gagal. Tetapi jika kita berhasil mencapai tujuan kita, jika kita dapati bahwa benda itu betul sesuai dengan ide kita tentang benda tersebut, dan betul menjawab maksud yang kita kehendaki, maka itulah bukti yang positif bahwa persepsi kita tentang dia dan tentang kualitet-kualitetnya, sejauh itu, sesuai dengan kenyataan di luar kita sendiri. Dan kapanpun kita mendapatkan diri kita berhadapan dengan kegagalan, maka pada umumnya kita tidak lama-lama menemukan sebab yang membikin kita gagal; kita dapati bahwa persepsi di atas dasar mana kita bertindak atau tidak lengkap dan dangkal, atau dikombinasikan dengan hasil-hasil persepsi-persepsi lain dengan cara yang tidak mereka benarkan — apa yang kita namakan pemikiran yang tidak sempurna. Selama kita berhati-hati melatih dan menggunakan pancaindera kita sebagaimana mestinya dan menjaga tindakan kita di dalam batas-batas yang ditetapkan oleh persepsi-persepsi yang dibuat dan dipergunakan sebagaimana mestinya, maka selama itu akan kita dapat bahwa hasil tindakan kita membuktikan persesuaian persepsi-persepsi kita dengan sifat obyektif dari hal ihwal-hal ihwal yang dipersepsi. Selama ini, tidak dalam satu hal pun kita telah terbawa kepada kesimpulan bahwa persepsi-persepsi pancaindera kita, yang terkontrol secara ilmiah, menimbulkan dalam pikiran kita ide-ide mengenai dunia luar yang, karena sifat mereka sendiri, berlawanan dengan kenyataan, atau bahwa ada pertentangan yang bersenyawa antara dunia luar dengan persepsi-persepsi pancaindera kita mengenainya.

Tetapi lalu datang kaum agnostikus neo-Kantian dan berkata: Kita mungkin mengamati dengan benar kualitet-kualitet suatu benda, tetapi kita tidak dapat dengan sesuatu proses kepancainderaan atau proses mental memahami benda-dalam-dirinya sendiri. “Benda-dalam-dirinya sendiri” ini adalah di luar daya-tangkap kita. Terhadap ini Hegel sudah sejak lama telah menjawab: Jika orang mengenal semua kualitet sesuatu benda, maka orang itu mengenal benda itu sendiri; tiada yang tinggal kecuali kenyataan bahwa benda tersebut ada di luar kita; dan apabila pancaindera orang telah mengajarkan kepadanya tentang kenyataan itu, maka dia telah memahami sisa terakhir dari benda-dalam-dirinya sendiri, Ding an sich yang tak dapat diketahui yang terkenal dari Kant. Kepadanya dapat ditambahkan bahwa di masa Kant pengetahuan kita tentang benda-benda alam memang begitu fragmentaris (sepotong-potong) sehingga dia mungkin menyangka, di belakang yang sedikit kita ketahui tentang masing-masingnya, ada suatu “benda-dalam-dirinya sendiri” yang rahasia. Tetapi satu demi satu benda-benda yang tidak dapat dipahami itu telah dipahami, dianalisa dan, bahkan,direproduksi oleh kemajuan raksasa ilmu; dan apa yang dapat kita hasilkan tentu saja tidak dapat kita anggap sebagai tidak dapat diketahui. Bagi ilmu kimia pada pertengahan pertama abad ini zat-zat organik merupakan benda-benda yang begitu rahasia; sekarang kita belajar untuk membangun mereka satu demi satu dari elemen-elemen kimianya tanpa bantuan proses-proses organik. Ahli-ahli kimia modern menyatakan bahwa segera sesudah dikenal susunan secara kimia tak peduli dari benda apapun, ia dapat dibangun dari elemen-elemennya. Kita masih jauh dari mengetahui susunan zat-zat organik yang tertinggi, benda-benda yang mengandung zat telur; tetapi tiada alasan mengapa kita tak akan mencapai pengetahuan itu, kalaupun sesudah berabad-abad dan bersenjatakan pengetahuan itu menghasilkan zat-telur-buatan. Tetapi jika kita mencapai itu, maka bersamaan itu kita sudah akan menghasilkan kehidupan organik, karena kehidupan, dari bentuk-bentuknya yang terendah sampai pada yang tertinggi, hanyalah cara eksistensi yang normal dari benda-benda yang mengandung zat telur.

Akan tetapi segera setelah agnostikus kita itu membuat reserve-reserve mental yang formil ini, dia berbicara dan bertindak sebagai seorang materialis tulen pada dasarnya. Dia bisa berkata bahwa, sepanjang yang kita ketahui, materi dan gerak, atau seperti yang dinamakan sekarang, energi, tidak dapat diciptakan ataupun dihancurkan, tetapi bahwa pada kita tidak ada bukti bahwa mereka tidak diciptakan pada satu atau lain waktu. Tetapi jika orang mencoba menggunakan pengakuan ini untuk menentang dia dalam sesuatu hal tertentu, maka dia akan cepat-cepat menyatakan tidak bisa diterima. Jika dia mengakui kemungkinan spiritualisme in abstracto, dia tidak mau tahu hal itu in concreto. Sepanjang yang kita ketahui dan dapat kita ketahui, dia akan mengatakan kepada orang bahwa tidak ada Pencipta dan tidak ada Penguasa alam-dunia; sejauh mengenai kita, materi dan energi tidak dapat diciptakan ataupun dihancurkan; bagi kita, pikiran adalah cara energi, suatu fungsi otak; semua yang kita ketahui ialah bahwa dunia materiil dikuasai oleh hukum-hukum yang tak dapat diubah, dan seterusnya. Dengan demikian, selama dia seorang ilmiah, selama dia mengetahui sesuatu, dia adalah seorang materialis; di luar ilmunya, dalam lapangan-lapangan yang sama sekali tidak dia kenal, dia terjemahkan ketidaktahuannya ke dalam bahasa Yunani dan menamakannya agnostisisme.

Bagaimanapun juga, satu hal kiranya jelas: kalaupun saja seorang agnostikus, adalah jelas bahwa saya tidak bisa menamakan konsepsi sejarah yang dibagankan dalam buku kecil ini sebagai “agnostisisme histori”. Orang-orang yang beragama akan menertawakan saya, kaum agonstikus dengan marah akan bertanya, apakah saya hendak mempermainkan mereka? Dan demikianlah saya harap kaum terhormat Inggris pun tidak akan terlalu terkejut jika saya gunakan, dalam bahasa Inggris maupun dalam begitu banyak bahasa lainnya, istilah “materialisme histori”, untuk menamakan pandangan dari haluan sejarah yang mencari sebab terakhir dan tenaga penggerak besar dari semua kejadian sejarah yang penting dalam perkembangan ekonomi masyarakat, dalam pergantian cara-cara produksi dan pertukaran, dalam pembagian sebagai akibatnya dari masyarakat ke dalam kelas-kelas yang berbeda-beda dan dalam perjuangan-perjuangan dari kelas-kelas ini di antara satu sama lain.

Kemurahan hati ini barangkali akan makin lebih cepat diberikan kepada saya jika saya tunjukkan bahwa materialisme histori dapat menguntungkan bahkan bagi kaum terhormat Inggris pun. Telah saya sebutkan kenyataan bahwa kira-kira empat puluh atau lima puluh tahun yang lalu, seseorang asing yang berkebudayaan yang menetap tinggal di Inggris terkejut dengan apa yang pada waktu itu pasti dianggapnya sebagai kegila-gilaan keagamaan dan ketololan kelas-tengah yang terhormat itu. Sekarang akan saya buktikan bahwa kelas-tengah Inggris yang terhormat pada masa itu tidak setolol seperti tampaknya bagi orang asing yang inteligen. Kecenderungan-kecenderungan keagamaannya dapat dijelaskan.

Ketika Eropa muncul dari Abad Pertengahan, kelas-tengah yang sedang naik di kota-kota merupakan elemennya yang revolusioner. Ia telah memenangkan kedudukan yang diakui di dalam organisasi feodal zaman pertengahan, tetapi kedudukan ini juga telah menjadi terlalu sempit bagi daya-meluasnya. Perkembangan kelas-tengah, borjuasi, menjadi bertentangan dengan pertahanan sistem feodal; karena itu sistem feodal mesti runtuh.

Tetapi pusat internasional yang besar dari feodalisme adalah Gereja Rum Katolik. Ia mempersatukan seluruh Eropa Barat yang terfeodalisasi, kendatipun segala peperangan dalam negeri, menjadi satu sistem politik yang besar, yang berlawanan baik dengan orang-orang Yunani schismatik maupun dengan negeri-negeri Islam. Ia mengelilingi lembaga-lembaga feodal dengan lingkaran cahaya pentahbisan ke-Tuhanan. Ia telah mengorganisasi hierarkinya sendiri menurut model feodal dan akhirnya ia sendiri adalah jauh lebih daripada tuan feodal yang sangat kuat memegang, sebagaimana dilakukannya, sepertiga penuh dari tanah dunia Katolik. Sebelum feodalisme yang tidak suci dapat diserang dengan berhasil baik di setiap negeri dan secara detail, maka ini, organisasi pusatnya yang kudus, harus dihancurkan.

Lagipula, sejajar dengan timbulnya kelas-tengah berlangsunglah kehidupan-kembali ilmu secara besar-besaran; astronomi, mekanika, fisika, anatomi, fisiologi, dikembangkan kembali. Dan borjuasi, untuk perkembangan produksi industrinya, membutuhkan ilmu yang menyelidiki sifat-sifat fisika dari benda-benda alam dan cara-cara bekerjanya kekuatan-kekuatan alam. Sampai sekarang ilmu hanyalah menjadi pelayan yang hina dari Gereja, tidak diperbolehkan melangkahi batas-batas yang ditentukan oleh kepercayaan dan oleh karena itu tidaklah ada ilmu sama sekali. Ilmu memberontak melawan Gereja; borjuasi tidak bisa tanpa ilmu dan, karenanya, harus ikut serta dalam pemberontakan itu.

Yang tersebut di atas, meskipun hanya menyinggung dua dari hal-hal di mana kelas-tengah yang sedang naik pasti berbentrok dengan agama negeri, akan cukuplah menunjukkan bahwa, pertama, kelas yang sangat langsung berkepentingan akan perjuangan melawan hak-hak Gereja Rum adalah borjuasi; dan bahwa, kedua, setiap perjuangan melawan feodalisme pada waktu itu harus memakai kedok agama, harus pertama-tama ditunjukkan terhadap Gereja. Tetapi jika universitas-universitas dan kaum pedagang di kota-kota memulai seruannya, maka pastilah akan mendapatkan, dan betul telah mendapatkan, gema yang kuat di kalangan massa Rakyat pedesaan, kaum petani, yang di mana-mana, harus berjuang untuk hidup mereka sendiri melawan tuan-tuan feodal mereka, spirituil dan duniawi.

Perjuangan yang lama dari borjuasi melawan feodalisme memuncak dengan tiga pertempuran besar yang menentukan.

Yang pertama ialah apa yang disebut Reformasi Protestan di Jerman. Seruan perang melawan Gereja yang dilantangkan oleh Luther disambut oleh dua pemberontakan yang bersifat politik: pertama, pemberontakan kaum bangsawan rendahan di bawah Franz von Sickingen (1523), kemudian Perang Tani besar, 1525. Kedua-duanya dikalahkan, terutama sebagai akibat kebimbangan dari pihak-pihak yang berkepentingan, penduduk kota-kota — kebimbangan yang sebab-sebabnya tidak dapat kita masuki di sini. Dari saat itu perjungan merosot menjadi pertempuran antara pangeran-pangeran lokal dengan kekuasaan pusat dan berakhir dengan pencoretan Jerman, selama dua ratus tahun, dari nasion-nasion Eropa yang aktif dalam politik. Reformasi Luther memang menghasilkan kepercayaan baru, suatu agama yang disesuaikan dengan monarki absolut. Baru saja kaum petani di Jerman Timur Laut itu masuk Lutheranisme maka mereka merosot dari orang-orang merdeka menjadi hamba.

Tetapi di mana Luther gagal, Calvin menang. Kepercayaan Calvin adalah kepercayaan yang cocok bagi borjuasi yang paling berani pada zamannya. Ajarannya tentang takdir adalah pernyataan keagamaan dari kenyataan bahwa dalam dunia persaingan dagang sukses atau kegagalan tidak bergantung pada aktivitet atau kepintaran seseorang, tetapi pada keadaan-keadaan yang tidak dapat dia kendalikan. Bukan karena dia yang mau atau karena dia yang menyelenggarakan, tetapi karena kemurahan hati kekuatan-kekuatan ekonomi tertinggi yang tidak dikenal; dan hal ini terutama benar pada periode revolusi ekonomi, ketika semua jalan dan pusat perdagangan yang lama diganti oleh yang baru, ketika India dan Amerika menjadi terbuka bagi dunia dan ketika barang-barang kepercayaan ekonomi yang paling keramat pun — nilai emas dan perak — mulai goyang dan ambruk. Konstitusi gereja Calvin sama sekali demokratis dan republiken; dan di mana kerajaan Tuhan direpublikkan, dapatkan kerajaan-kerajaan di dunia ini tetap tunduk kepada raja-raja, biskop-biskop dan tuan-tuan? Sementara Lutheranisme Jerman menjadi alat yang menurut dalam tangan pangeran-pangeran, Calvinisme mendirikan republik di Nederland dan partai-partai republiken yang aktif di Inggeris dan terutama di Skotlandia.

Dalam Calvinisme pergolakan borjuis kedua yang besar mendapatkan ajarannya yang sudah siap-jadi. Pergolakan ini terjadi di Inggris. Kelas-tengah di kota-kota yang menyebabkannya dan kaum pemilik tanah kecil pedesaan memperjuangkannya. Cukup aneh, dalam semua tiga pemberontakan borjuis yang besar itu, kaum tani menyediakan tentara yang harus melakukan pertempuran; dan kaum tani adalah justru kelas yang, demi kemenangan tercapai, pasti sekali jatuh bangkrut karena akibat-akibat ekonomi dari kemenangan itu. Seratus tahun sesudah Cromwell kaum pemilik tanah kecil Inggris hampir lenyap. Bagaimanapun juga, seandainya bukan karena kaum pemilik tanah kecil dan elemen plebejis di kota-kota, borjuasi sendiri tidak akan pernah memperjuangkan sampai titik penghabisan dan tidak akan pernah membawa Charles I ke penggantungan. Untuk menjamin kemenangan-kemenangan borjuasi yang sudah matang untuk dipetik pun pada waktu itu, revolusi harus diteruskan banyak lebih jauh lagi — persis seperti di Perancis dalam tahun 1793 dan di Jerman dalam tahun 1848. Ini rupanya memang menjadi salah satu hukum evolusi masyarakat borjuis.

Nah, atas ekses dari aktivitet revolusioner ini mesti menyusul reaksi yang tak terelakkan yang pada gilirannya melampaui titik di mana ia semestinya dapat mempertahankan diri. Sesudah serentetan kegoyangan-kegoyangan, titik berat baru akhirnya tercapai dan menjadi titik pangkal baru. Periode agung dari sejarah Inggris, yang terkenal bagi kaum yang terhormat dengan nama “Pemberontakan Besar”, dan perjuangan-perjuangan yang berikutnya, telah ditutup oleh peristiwa yang menurut perbandingan kecil yang dinamakan oleh ahli-ahli sejarah liberal “Revolusi Jaya”.

Titik pangkal yang baru itu adalah suatu kompromi antara kelas-tengah yang sedang naik dengan pemilik-pemilik tanah bekas feodal. Yang tersebut belakangan ini, meskipun seperti sekarang dinamakan kaum ningrat, sudah sejak lama berada di atas jalan yang membawa mereka menjadi seperti Louis Philippe di Perancis pada periode jauh kemudian, “borjuis pertama dari kerajaan”. Untunglah bagi Inggris, bahwa baron-baron feodal lama telah saling-bunuh dalam Peperangan Mawar Putih-Mawar Merah (1455-1485, Red. JP.). Pengganti-pengganti mereka, meskipun kebanyakan cangkokan dari keluarga-keluarga lama, namun mereka telah begitu banyak di luar garis keturunan langsung sehingga mereka merupakan suatu kelompok yang sama sekali baru, dengan kebiasaan-kebiasaan dan kecenderungan-kecenderungan yang jauh lebih banyak borjuis daripada feodal. Mereka sepenuhnya mengerti akan nilai uang dan lekas-lekas mulai menaikkan sewa tanah mereka dengan mengusir ratusan petani kecil dan menggantinya dengan domba. Henry VIII, sementara memboroskan tanah-tanah Gereja, menciptakan tuan-tuan tanah borjuis baru secara besar-besaran; konfiskasi-konfiskasi milik-tanah yang tak terhitung banyaknya, yang dihadiahkan kembali kepada orang-orang kaya baru absolut atau relatif, dan terus berlangsung sepanjang abad ke-17, mempunyai akibat yang sama. Karena itu, mulai sejak Henry VII, “kaum ningrat” Inggris, jauh daripada merintangi perkembangan produksi industri, malah sebaliknya telah mencari keuntungan dengan itu secara tak langsung; dan selalu ada sebagian dari pemilik-pemilik tanah besar yang suka, karena alasan-alasan ekonomi dan politik, bekerjasama dengan orang-orang terkemuka dar borjuasi finans dan industri. Karena itu kompromi 1689 mudah dicapai. Rampasan-rampasan politik “kekayaan dan kedudukan”, diserahkan kepada keluarga-keluarga pemilik-tanah besar, asalkan kepentingan-kepentingan ekonomi dari kelas-tengah finans, manufaktur dan dagang cukup diperhatikan. Dan kepentingan-kepentingan ekonomi ini pada waktu itu adalah cukup kuat untuk menentukan politik umum nasion. Mungkin ada percekcokan-percekcokan mengenai hal-hal yang kecil-kecil tetapi, pada umumnya, oligarki aristokratis tahu baik sekali bahwa kemakmuran ekonominya sendiri rapat berhubungan dengan tak dapat diperbaiki lagi dengan kepentingan-kepentingan kelas-tengah industri dan dagang.

Mulai dari saat itu borjuasi adalah suatu komponen (bagian) yang rendah, tapi toh komponen yang diakui dari kelas-kelas yang berkuasa di Inggris. Dengan selebihnya dari mereka, borjuasi mempunyai kepentingan yang sama dalam terus menundukkan massa pekerja yang luas dari nasion. Pedagang atau tuan pabrik sendiri berada dalam kedudukan sebagai majikan, atau, seperti yang dinamakan sampai belakangan ini, sebagai “atasan yang wajar” bagi juru tulis-juru tulisnya, bagi orang-orang pekerjanya, bagi bujang-bujangnya. Kepentingannya ialah untuk mempekerjakan mereka sebanyak dan sebaik mungkin; untuk maksud ini mereka harus dilatih patuh dengan sepatutnya. Dia sendiri beribadat; agamanya telah memberikan panji di bawah mana dia telah berjuang melawan raja dan tuan-tuan; dia tidak lama-lama dalam menemukan kesempatan-kesempatan yang diberikan oleh agama ini juga kepadanya untuk mempengaruhi pikiran-pikiran bawahannya yang wajar dan membikin mereka patuh kepada perintah-perintah para majikan yang Tuhan berkenan meletakkannya di atas mereka. Pendeknya, borjuasi Inggris sekarang harus mengambil bagian dalam menekan “pangkat-pangkat rendahan”, massa penghasil yang luas dari nasion, dan salah satu alat yang dipergunakan untuk maksud itu ialah pengaruh agama.

Ada fakta lain yang membantu memperkuat kecenderungan-kecenderungan keagamaan dari borjuasi. Yaitu timbulnya materialisme di Inggris. Doktrin baru ini tidak hanya mengejutkan perasaan-perasaan kesalehan dari kelas-tengah; ia mempermaklumkan diri sebagai filsafat yang hanya cocok bagi sarjana-sarjana dan orang-orang yang berkebudayaan di dunia, berlawanan dengan agama, yang cukup baik bagi massa yang tidak berpendidikan, termasuk borjuasi. Dengan Hobbes ia melangkah ke atas panggung sebagai pembela dari hak istimewa dan kemahakuasaan raja; ia menyerukan kepada monarki absolut supaya menekan puer robustus sed malitiousus[15], yaitu, Rakyat. Begitu pula dengan pengganti-pengganti Hobbes, dengan Bolingbroke, Shaftesburry, dll., bentuk deistis baru dari materialisme tetap merupakan ajaran yang artistokratis, esoteris (rahasia), dan karena itu membencikan kelas-tengah baik karena bid'ah keagamaannya maupun karena hubungan-hubungan politiknya yang anti-borjuis. Karena itu, berlawanan dengan materialisme dan deisme dari kaum ningrat, sekte-sekte Protestan yang telah memberikan bendera dan pasukan bertempur melawan Stuart-Stuart terus memperlengkapi kekuatan pokok kelas-tengah yang progresif dan sekarangpun merupakan tulang punggung “Partai Liberal Besar”.

Dalam pada itu materialisme berpindah dari Inggris ke Perancis, di mana ia bertemu dan berpadu dengan mazhab ahli-ahli filsafat materialis lain, suatu cabang Cartesianisme. Juga di Perancis ia mula-mula tetap merupakan ajaran yang aristokratis semata-mata. Tetapi segera watak revolusionernya menonjolkan diri. Kaum materialis Perancis tidak membatasi kritik mereka pada soal-soal kepercayaan agama; mereka meluaskannya pada tradisi ilmiah atau lembaga politik apapun juga yang mereka jumpai; dan untuk membuktikan tuntutan ajaran mereka untuk diterapkan secara universil, mereka mengambil jalan memintas yang paling pendek dan dengan berani menerapkannya pada semua subyek pengetahuan dalam karya raksasa sesudah mana mereka dinamakan —Ensiklopedi. Dengan demikian, dalam salah satu dari dua bentuknya — materialisme yang terang-terangan diakui atau deisme — ia menjadi kepercayaan seluruh pemuda Perancis yang beradab; sedemikian rupa sehingga ketika Revolusi Besar meletus, ajaran yang ditetaskan oleh kaum Royalis Inggris memberikan bendera teoritis kepada kaum Republiken dan Teroris Perancis dan menyediakan teks bagi Deklarasi Hak-Hak Manusia. Revolusi Besar Perancis adalah pemberontakan borjuasi yang ketiga, tetapi yang pertama yang telah mencampakkan sama sekali jubah keagamaan dan telah diperjuangkan menurut garis-garis politik yang tak bertopeng; ia adalah yang pertama pula yang sungguh-sungguh diperjuangkan sampai pada penghancuran salah satu dari yang bertempur, kaum ningrat, dan kemenangan penuh bagi yang lain, borjuasi. Di Inggris keterusan lembaga-lembaga sebelum revolusi dan sesudah revolusi, dan kompromi antara tuan-tuan tanah dengan kapitalis-kapitalis, menemukan pernyataannya dalam keterusan preseden-preseden hukum dan dalam pemeliharaan secara keagamaan bentuk-bentuk feodal dari hukum. Di Perancis Revolusi itu merupakan pemutusan hubungan sepenuhnya dengan tradisi-tradisi masa lampau; ia menghabisi sisa-sisa feodalisme yang terakhir sekali dan menciptakan dalam Kitab Undang-Undang Sipil suatu penyesuaian yang sangat pandai dari undang-undang Romawi kuno — hampir merupakan pernyataan sempurna dari hubungan-hubungan hukum yang sesuai dengan tingkatan ekonomi yang oleh Marx dinamakan produksi barang dagangan — pada syarat-syarat kapitalis modern; begitu amat pandai sehingga kita undang-undang revolusioner Perancis ini masih berlaku sebagai model bagi perubahan-perubahan undang-undang tentang hak milik di semua negeri lainnya, Inggris tak terkecuali. Akan tetapi janganlah kita lupakan bahwa jika undang-undang Inggris terus menyatakan hubungan-hubungan ekonomi masyarakat kapitalis dalam bahasa feodal yang barbar itu yang sesuai dengan hal yang dinyatakan, persis seperti ejaan Inggris sesuai dengan ucapan Inggris — vous écrives Londres et vous prononcez Constantinople,[16] kata seorang Perancis — undang-undang Inggris itu juga adalah satu-satunya undang-undang yang telah mempertahankan sepanjang berabad-abad serta memindahkan ke Amerika dan Daerah-Daerah jajahan, bagian yang terbesar dari kemerdekaan pribadi Jerman lama, pemerintahan-sendiri lokal dan kebebasan dari segala campur tangan kecuali dari pengadilan-pengadilan yang di Kontinen telah hilang selama periode monarki absolut dan yang di mana-mana pun masih belum sepenuhnya diperoleh kembali.

Kembali kepada borjuis Inggris kita. Revolusi Perancis telah memberikan kepadanya kesempatan yang sangat bagus, dengan bantuan kerajaan-kerajaan Kontinen, untuk menghancurkan perdagangan maritim Perancis, untuk mencaplok jajahan-jajahan Perancis dan untuk memusnahkan hak-hak Perancis yang terakhir akan persaingan di laut. Itulah satu alasan mengapa dia memeranginya. Alasan lain ialah bahwa cara-cara revolusi itu sangat berlawanan dengan kemauannya. Tidak hanya terorismenya yang “ngeri”, tetapi justru percobaan untuk melaksanakan kekuasaan borjuis sampai pada ekstrim. Apakah yang akan diperbuat oleh borjuis Inggris tanpa kaum ningratnya, yang telah mengajarkan tata cara kepadanya, seperti halnya mereka, dan mereka-reka kebiasaan-kebiasaan untuknya — yang menyediakan perwira-perwira tentara, yang menjaga ketertiban di dalam negeri dan angkatan laut yang merebut daerah-daerah jajahan dan pasar-pasar baru di luar negeri? Tentu ada minoritet yang progresif di kalangan borjuasi, minoritet yang kepentingan-kepentingannya tidak begitu baik diperhatikan dalam kompromi; golongan ini, yang terutama terdiri dari kelas-tengah yang kurang kaya, memang bersimpati kepada Revolusi, tetapi ia tak berdaya di dalam Parlemen.

Dengan begitu, jika materialisme telah menjadi kepercayaan Revolusi Perancis, maka borjuis Inggris yang saleh semakin lebih kuat lagi berpegang pada agamanya. Tidakkah pemerintahan teror di Paris membuktikkan apa kesudahannya jika naluri-naluri keagamaan dari massa hilang? Makin menyebar materialisme dari Perancis ke negeri-negeri tetangganya dan diperkuat oleh aliran-aliran ajaran yang sama, khususnya oleh filsafat Jerman, sebenarnya materialisme dan pikiran bebas pada umumnya di Kontinen makin menjadi syarat-syarat yang diperlukan bagi seorang yang beradab, makin tegarlah kelas-tengah Inggris berpaku pada kepercayaan-kepercayaan keagamaannya yang bermacam-macam itu. Kepercayaan-kepercayaan ini bisa berbeda satu sama lain, tetapi mereka kesemuanya adalah kepercayaan-kepercayaan keagamaan, kepercayaan-kepercayaan Kristen, yang tegas-nyata.

Sementara Revolusi menjamin kemenangan politik bagi borjuasi di Perancis, di Inggris Watt, Arkwright, Cartwright dan lain-lainnya memulai revolusi industri, yang sepenuhnya memindahkan titik berat kekuasaan ekonomi. Kekayaan borjuasi meningkat dengan banyak lebih cepat daripada kekayaan kaum ningrat yang bertanah. Di kalangan borjuasi sendiri kaum ningrat finans, bankir-bankir, dsb., makin lama makin didesak ke belakang oleh tuan-tuan pabrik. Kompromi tahun 1689, bahkan sesudah perubahan-perubahan secara berangsur-angsur yang telah dialaminya dengan menguntungkan borjuasi, tidak lagi sesuai dengan kedudukan pihak-pihak yang bersangkutan dengannya. Watak dari pihak-pihak ini juga telah berubah; borjuasi tahun 1830 sangat berlainan dengan borjuasi abad yang lalu. Kekuasaan politik yang masih berada pada kaum ningrat dan dipergunakan oleh mereka untuk menentang hak-hak borjuasi industri baru menjadi bertentangan dengan kepentingan-kepentingan ekonomi baru. Suatu perjuangan baru melawan kaum ningrat diperlukan; ia dapat berakhir hanya dengan kemenangan kekuasaan ekonomi baru. Pertama, Undang-Undang Reform diteruskan, kendatipun segala perlawanan, di bawah dorongan Revolusi Perancis 1830. Ia memberikan kepada borjuasi kedudukan yang diakui dan kuat di dalam Parlemen. Kemudian Pencabutan Undang-Undang Gandum[17] yang telah menegakkan, sekali untuk selama-lamanya, kekuasaan tertinggi borjuasi, dan terutama kekuasaan tertinggi dari bagiannya yang paling aktif, tuan-tuan pabrik, di atas kaum ningrat yang bertanah. Ini adalah kemenangan yang paling besar dari borjuasi; akan tetapi ia juga merupakan yang terakhir yang dicapainya untuk kepentingannya sendiri melulu. Kemenangan-kemenangan apapun yang diperolehnya kemudian, ia harus membaginya dengan suatu kekuatan sosial baru, mula-mula sekutunya, tetapi segera kemudian menjadi saingannya.

Revolusi industri telah menciptakan suatu kelas dari kaum kapitalis manufaktur besar, tetapi juga suatu kelas — dan kelas yang jauh lebih besar jumlahnya — kaum buruh manufaktur. Kelas ini berangsur-angsur bertambah besar jumlahnya, dengan makin dikuasainya satu demi satu cabang manufaktur oleh revolusi industri dan seimbang dengan itu ia bertambah kuasa. Kekuasaan ini dibuktikannya sudah dalam tahun 1824, dengan memaksa Parlemen yang enggan mencabut undang-undang yang melarang adanya gabungan-gabungan kaum buruh. Selama agitasi Reform, kaum buruh merupakan saya Radikal dari partai Reform; Undang-Undang 1832 sesudah mengecualikan mereka dari hak pilih, mereka merumuskan tuntutan-tuntutan mereka di dalam Piagam Rakyat (People’s Charter) dan menyusun diri, berlawanan dengan partai borjuis Anti-Undang-Undang Gandum yang besar, menjadi suatu partai yang berdiri sendiri, kaum Cartis, partai kaum buruh yang pertama dari zaman modern.

Kemudian datanglah revolusi-revolusi di Kontinen pada Februari dan Maret 1848, di mana kaum buruh memainkan peranan yang begitu menonjol dan, sekurang-kurangnya di Paris, mengajukan tuntutan-tuntutan yang tentu tak dapat diterima dari sudut pendirian masyarakat kapitalis. Dan lalu datang reaksi umum. Mula-mula kekalahan kaum Cartis pada 10 April 1848, kemudian penindasan pemberontakan kaum buruh Paris dalam bulan Juni tahun itu juga, lantas bencana-bencana pada tahun 1849 di Italia, Hongaria, Jerman Selatan dan akhirnya kemenangan Louis Bonaparte atas Paris, 2 Desember 1851. Sekurang-kurangnya untuk beberapa lamanya momok tuntutan-tuntutan kelas buruh ditindas, tetapi dengan biaya bagaimana! Jika borjuis Inggris sebelumnya telah meyakini akan perlunya memelihara Rakyat biasa tetap dalam suasana-hati keagamaan, betapa bertambahnya dia mesti merasakan perlunya itu sesudah semua pengalaman ini. Tak peduli ejekan-ejekan dari konco-konconya di Kontinen, dia terus mengeluarkan ribuan dan puluhan ribu, dari tahun ke tahun, untuk evangelisasi (penasranian) pangkat-pangkat rendahan; tidak puas dengan mesin-mesin keagamaan dalam negerinya sendiri, dia meminta pertolongan kepada Saudara Jonathan,[18] organisator yang terbesar dalam adanya agama sebagai suatu perdagangan dan mengimpor dari Amerika revivalisme-revivalisme, Moody dan Sankey dan sebangsanya; dan akhirnya dia menerima bantuan yang berbahaya dari Bala Keselamatan, yang menghidupkan kembali propaganda agama Kristen yang awal mula, meminta pertolongan kepada kaum miskin sebagai orang-orang pilihan, melawan kapitalisme secara keagamaan dan dengan begitu memupuk unsur antagonisme kelas Kristen dahulu, yang pada suatu hari bisa menjadi menyusahkan bagi orang-orang kaya yang sekarang mendapatkan uang tunai untuk itu.

Rupa-rupanya suatu hukum perkembangan sejarah bahwa borjuasi di negeri Eropa manapun tak dapat memegang kekuasaan politik — sekurang-kurangnya untuk sesuatu jangka waktu — dengan cara yang sama khasnya seperti kaum ningrat feodal memegang kekuasaan politik itu selama Abad Pertengahan. Bahkan di Perancis, di mana feodalisme dimusnahkan sama sekali, borjuasi, sebagai keseluruhan, telah memegang Pemerintah sepenuhnya hanya selama periode-periode yang sangat pendek. Selama pemerintahan Louis Philippe, 1830-1848, sebagian yang sangat kecil dari borjuasi memerintah kerajaan itu; bagian yang jauh lebih besar dikecualikan dari hak pilih karena syarat yang tinggi. Di bawah Republik kedua, 1848-1851, seluruh borjuasi memerintah, tapi hanya selama tiga tahun saja; ketidaksanggupan mereka menyebabkan terjadinya kerajaan kedua. Barulah sekarang, dalam Republik ketiga, bahwa borjuasi sebagai keseluruhan telah memegang kemudi selama dua puluh tahun lebih; dan mereka sudah menunjukkan dengan hidup tanda-tanda dekadensi (kemerosotan). Suatu pemerintahan yang tahan lama dari borjuasi telah mungkin hanya di negeri-negeri seperti Amerika, di mana feodalisme tidak dikenal dan masyarakat dari sejak mula bertolak dari basis borjuis. Dan bahkan di Perancis dan Amerika pun, pengganti-pengganti borjuasi, kaum buruh, sudah sedang mengetuk pintu.

Di Inggris borjuasi belum pernah memegang kekuasaan yang utuh tak terbagi. Bahkan kemenangan pada tahun 1832 membiarkan kaum ningrat yang bertanah hampir semata-mata memiliki semua jabatan Pemerintah yang terpenting. Kerendahan hati dengan mana kelas-tengah yang kaya menyerah kepada hal ini tetap tak dapat dimengerti bagi saya sampai tuan pabrik besar Liberal, Tuan W.A. Forster, dalam pidato di muka umum memohon dengan sangat kepada orang-orang muda di Bradford supaya belajar bahasa Perancis, sebagai suatu jalan untuk maju di dunia, dan mengemukakan dari pengalamannya sendiri betapa tersipu-sipunya dia kelihatannya ketika dia, sebagai seorang Menteri Kabinet, harus bergerak di dalam pergaulan di mana bahasa Perancis sekurang-kurangnya sama diperlukannya seperti bahasa Inggris! Kenyataannya ialah bahwa kelas-tengah Inggris pada waktu itu biasanya adalah orang-orang kaya baru yang tidak terpelajar sama sekali dan harus menyerahkan kepada kaum ningrat kedudukan-kedudukan pemerintahan yang lebih tinggi di mana diminta syarat-syarat lain kecuali kesempatan insuler serta keangkuhan insuler saja, yang dibumbui dengan kecerdikan dagang.[19] Sekarangpun perdebatan-perdebatan dalam surat kabar yang tak ada putusnya tentang pendidikan kelas-tengah menunjukkan bahwa kelas-tengah Inggris masih memandang dirinya belum cukup baik untuk pendidikan yang terbaik dan mengharapkan sesuatu yang lebih sederhana. Dengan begitu sesudah pencabutan Undang-Undang Gandum pun, tampaknya sebagai hal yang wajar bahwa orang-orang yang telah menang, Cobden-Cobden, Bright-Bright, Foster-Foster, dll., harus tetap disingkirkan dari ambil bagian dalam pemerintahan resmi negeri, sampai dua puluh tahun kemudian. Undang-Undang Reform baru membuka pintu Kabinet bagi mereka. Borjuasi Inggris, hingga sekarang ini, begitu dalam diresapi oleh rasa rendah diri mereka di lapangan sosial sehingga mereka mempertahankan, atas biaya mereka sendiri dan nasion, suatu kasta perhiasan dari lebah-lebah jantan (orang yang tak bekerja, yang hidup atas kerja orang lain, — Red. JP) untuk mewakili nasion dengan patut pada semua fungsi kenegaraan: dan mereka memandang diri mereka sangat dihormati kapan saja salah seorang dari mereka ternyata patut untuk diterima masuk ke dalam badan (kelompok) pilihan dan berhak istimewa ini, yang sebenarnya mereka bikin sendiri.

Oleh karena itu kelas-tengah industri dan dagang belum berhasil dalam mendesak kaum ningrat yang bertanah sama sekali dari kekuasaan politik ketika saingan lain, kelas buruh, muncul di atas panggung. Reaksi sesudah gerakan Cartis dan revolusi-revolusi di Kontinen, dan juga perluasan yang tiada bandingnya dari perdagangan Inggris dari 1848-1866 (secara vulgar dikatakan disebabkan oleh Perdagangan Bebas saja, tetapi jauh lebih banyak karena perkembangan secara sangat besar-besaran dari jalan-jalan kereta api, kapal-kapal laut dan alat-alat perhubungan pada umumnya), teka mendorong lagi kelas buruh ke dalam ketergantungan kepada partai Liberal, dalam partai mana mereka, seperti dalam masa-masa pra-Cartis, merupakan sayap Radikal. Akan tetapi tuntutan mereka akan hak pilih berangsur-angsur menjadi tidak tertahan; sedang pemimpin-pemimpin Whig dari kaum Liberal “ketakutan”, Disraeli menunjukkan keunggulannya dengan membikin kaum Tory menyergap saat yang menguntungkan itu dan menjalankan hak pilih keluarga di daerah-daerah pemilihan kota, bersama-sama dengan pembagian kembali kursi-kursi. Kemudian menyusul pemungutan suara (secara rahasia); lalu dalam tahun 1884 perluasan hak pilih keluarga sampai pada daerah-daerah propinsi dan pembagian-kembali baru kursi-kursi, menurut mana daerah-daerah pemilihan sampai pada batas tertentu disamakan. Semua tindakan ini banyak menambah kekuatan kelas buruh dalam pemilihan, sebegitu banyak sehingga di sekurang-kurangnya 150 sampai 200 daerah pemilihan kelas itu memberikan mayoritet pemilih. Tetapi pemerintah parlementer adalah merupakan sekolah yang terbaik untuk mengajar rasa hormat kepada tradisi; jika kelas-tengah memandang dengan rasa segan dan takzim kepada apa yang oleh Lord John Manners secara berkelakar dinamakan “kaum ningrat tua kita”, maka massa Rakyat pekerja memandang dengan hormat serta takzim kepada apa yang biasa dinamakan sebagai “orang-orang atasan mereka”, kelas-tengah. Memang, buruh Inggris kira-kira lima belas tahun yang lalu merupakan buruh teladan, yang perhatiannya yang khidmat terhadap kedudukan majikan dan yang kerendah-hatinya yang tahu menahan diri dalam menuntut hak-hak untuk dirinya sendiri menghibur para ahli ekonomi Jerman kita dari aliran Katheder-Sosialis karena kecenderungan-kecenderungan Komunis serta revolusioner yang tak terobati lagi dari kaum buruh Jerman mereka sendiri.

Tetapi kelas-tengah Inggris — sebagai orang-orang dagang yang baik — melihat lebih jauh daripada para profesor Jerman. Mereka telah membagi, tapi dengan enggan, kekuasaan mereka dengan kelas buruh. Mereka telah belajar selama tahun-tahun Cartis apa yang sanggup diperbuat oleh puer robustus sed malitiosus, Rakyat, itu. Dan sejak waktu itu mereka telah terpaksa memasukkan bagian terbesar dari Piagam Rakyat ke dalam Undang-Undang Dasar Kerajaan Inggris. Sekarang, jika sewaktu-waktu Rakyat harus diatur dengan jalan moril, maka yang pertama serta terutama dari semua jalan moril untuk mempengaruhi massa adalah dan tetap — agama. Dari sinilah mayoritet-mayoritet pendeta pada Komisi-Komisi Sekolah, dari sinilah meningkatnya pemajakan diri sendiri dari borjuasi untuk menyokong segala macam revivalisme dari ritualisme sampai pada Bala-Keselamatan.

Dan sekarang datang kemenangan kaum terhormat Inggris atas pikiran bebas dan kekenduran keagamaan dari borjuis Kontinen. Kaum buruh Perancis dan Jerman telah menjadi memberontak. Mereka telah dijangkiti sama sekali oleh Sosialisme dan, karena alasan-alasan yang sangat baik, sama sekali tidak pilih-pilih mengenai kesahan jalan untuk memperoleh kekuasaan mereka sendiri. Di sini puer robustus dari hari ke hari menjadi lebih malitiosus. Bagi borjuasi Perancis dan Jerman tiada lagi akal-daya yang terakhir kecuali secara diam-diam melepaskan pikiran bebas mereka, bagaikan seorang anak muda ketika mabuk laut mulai merayap pada dirinya dengan diam-diam menjatuhkan rokok yang masih menyala yang dia bawah dengan lagaknya ke atas kapal; satu demi satu pengejek-pengejek menjadi saleh dalam tingkah laku di luar, dengan rasa hormat berbicara tentang Gereja, dogma-dogma dan upacara-upacaranya, dan bahkan menyesuaikan diri dengan yang tersebut belakangan di mana sebegitu jauh mereka tidak bisa lain. Borjuis Perancis bersantap maigre (tanpa hidangan daging-dagingan dan lemak. — Red JP.) pada hari-hari Jum'at, dan borjuis Jerman pada hari-hari Minggu terus duduk di bangku-bangku gereja mereka sampai selesai mendengarkan khotbah-khotbah Protestan yang lama. Mereka telah gagal dengan materialisme. “Die Religion muss dem Volk erhalten werden” — agama harus dipelihara supaya tetap hidup bagi Rakyat — itulah satu-satunya jalan dan jalan yang terakhir untuk menyelamatkan masyarakat dari keruntuhan sama sekali. Malang bagi mereka sendiri, mereka tidak menemukan hal ini sebelum mereka berusaha sekuat-kuatnya untuk menghancurkan agama untuk selama-lamanya. Dan sekarang gilirannya borjuis Inggris untuk mengejek dan berkata: “Nah bagaimana, kalian tolol, aku telah dapat mengatakan itu kepadamu dua ratus tahun yang lalu!”

Akan tetapi saya kuatir bahwa baik kelembaman keagamaan dari borjuis Inggris maupun pembalikan post festum (sesudah pesta, Red. JP) dari borjuis Kontinen tidak akan membendung pasang naik proletar. Tradisi merupakan kekuatan penghambat yang besar, merupakan vis inertiae (kekuatan kelembaman, Red. JP) dari sejarah, tetapi karena hanya pasif saja maka pastilah akan dipatahkan; dan dengan begitu agama tidak akan merupakan jaminan yang kekal bagi masyarakat kapitalis. Jika ide-ide hukum, filsafat dan keagamaan kita banyak-sedikitnya merupakan ranting-ranting yang jauh dari hubungan-hubungan ekonomi yang berlaku dalam suatu masyarakat tertentu, maka ide-ide sedemikian itu pada akhirnya tidak dapat menahan akibat-akibat dari perubahan yang sepenuhnya dalam hubungan-hubungan ini. Dan, jika kita tidak percaya kepada wahyu gaib, kita harus mengakui bahwa tak ada dalil-dalil agama yang akan cukup untuk menyangga suatu masyarakat yang goyah.

Sebenarnya, di Inggris pun kaum buruh telah mulai bergerak lagi. Mereka itu tiada ragu lagi dibelenggu oleh berbagai macam tradisi. Tradisi-tradisi borjuis, seperti kepercayaan yang tersebar luas bahwa hanya bisa ada dua partai, yaitu kaum Konservatif dan kaum Liberal, dan bahwa kelas buruh harus melaksanakan penyelamatannya dengan dan melalui Partai Liberal yang besar. Tradisi-tradisi kaum buruh, diwarisi dari usaha-usaha percobaan mereka yang pertama untuk beraksi secara bebas, seperti tidak diizinkannya semua pelamar yang belum menjalani masa-belajar yang tetap masuk Serikat-Serikat buruh lama yang sangat banyak itu; yang berarti pengembangbiakan, oleh setiap serikat buruh sedemikian itu, penjilat-penjilatnya sendiri. Tetapi kendatipun demikian kelas buruh Inggris sedang bergerak, seperti oleh Profesor Brentano pun dengan sedih sekali telah terpaksa harus dilaporkan kepada saudaranya kaum Katheder-Sosialis. Ia bergerak, seperti segala-galanya di Inggris, dengan langkah pelan-pelan dan teratur, dengan keragu-raguan di sini, dengan usaha-usaha coba-coba yang sedikit atau banyak tidak membawa hasil di sana; ia kadang-kadang bergerak dengan kecurigaan yang terlalu berhati-hati terhadap nama Sosialisme, sementara ia berangsur-angsur menyerap hakekatnya; dan gerakan itu meluas serta menguasai satu demi satu lapisan buruh. Ia sekarang telah mengebaskan kaum buruh yang tak ahli di East End London dari kelembaman mereka dan kita semuanya tahu betapa bagusnya dorongan yang pada gilirannya diberikan oleh kekuatan-kekuatan baru ini kepada gerakan. Dan jika kecepatan dari gerakan itu tidak mengimbangi ketidaksabaran sementara orang, maka janganlah hendaknya mereka lupa bahwa kelas buruhlah yang memelihara tetap hidupnya kualitet-kualitet yang terbaik dari watak Inggris dan bahwa jika sekali suatu langkah maju dicapai di Inggris, maka biasanya ia tak akan pernah hilang kemudian. Jika putra-putra kaum Cartis lama, karena alasan-alasan seperti diterangkan di atas, tidak memenuhi sama sekali tuntutan-tuntutan, maka cucu-cucunya menjanjikan kepada nenek mereka akan menjadi patut sebagai cucu mereka.

Tetapi kemenangan kelas buruh Eropa tidaklah bergantung pada Inggris saja. Ia bisa diperoleh hanya dengan kerjasama sekurang-kurangnya antara Inggris, Perancis dan Jerman. Di kedua negeri yang tersebut belakangan itu gerakan kelas buruh lebih maju daripada di Inggris. Di Jerman bahkan jarak kesuksesnya sudah dapat diukur. Kemajuan yang diperolehnya di sana selama dua puluh lima tahun yang terakhir tiada taranya. Ia maju dengan kecepatan yang senantiasa semakin meningkat. Jika kelas-tengah Jerman telah memperlihatkan sendiri kekurangannya yang menyedihkan dalam kemampuan politik, disiplin, keberanian, energi serta ketekunan, maka kelas buruh Jerman telah memberikan bukti yang luas dari semua kualitet ini. Selama seratus tahun yang lalu, Jerman merupakan titik pangkal dari pergolakan pertama kelas-tengah Eropa; sebagaimana keadaannya sekarang, apakah di luar batas-batas kemungkinan bahwa Jerman akan menjadi panggung pula dari kemenangan besar pertama proletariat Eropa?

 

20 April, 1892


F. Engels

 

 

_______


Catatan

 

Dosen partikulir. — Red. JP.

 

2

 Kaum Lassalean dan kaum Eisenacher: Dua partai di dalam gerakan kelas buruh Jerman dalam tahun 60-an dan awal 70-an abad ke-19.

Kaum Lasallean, pengikut-pengikut Ferdinand Lasalle, yang membentuk Perserikatan Umum Buruh Jerman dalam thn. 1863.

Kaum Eisenacher, penganut-penganut Marxisme; mereka berada di bawah pengaruh ideologi Karl Marx dan Friedrich Engels. Dipimpin oleh Wilhelm Liebknecht dan August Babel, mereka mendirikan Partai Sosial-Demokratis Jerman pada Kongres Eisenach dalam tahun 1869.

Kemajuan gerakan kelas buruh mendorong kedua partai itu untuk bergabung. Penggabungan itu dilaksanakan pada Kongres Gotha dalam tahun 1875, dibentuk satu Partai Buruh Sosialis Jerman di mana kaum Lasallean mewakili sayap oportunis — Red.

 

Vorwärts: organ sentral Sosial-Demokrasi Jerman sesudah Kongres Persatuan Gotha. Ia terbit di Leipzig dalam tahun 1876-'78. — Red.

 

4

 Mark: persekutuan-hidup desa Jerman kuno. Di bawah judul ini Engels secara singkat menceritakan, dalam lampiran pada edisi Jerman yang pertama dan edisi Inggris yang pertama dariSosialisme: Utopis dan llmiah, sejarah kaum tani Jerman dimulai dengan zaman purbakala — Red.

 

Sub judice: dalam pertimbangan — Red.

 

6

 Agnostisisme (dari awalan Yunani a — tidak, dan gnosis — pengetahuan): Ajaran filsafat yang atau mengingkari adanya dunia materiil, menyatakan bahwa kita tak dapat mengetahui apakah ada sesuatu di luar sensasi-sensasi kita (ahli filsafat Inggris Hume), atau mengingkari kemungkinan mengetahui dunia materiil (ahli filsafat Jerman Kant). — Red.

 

7

 Nominalisme berasal dari kata Latin nomen — nama dan merupakan suatu aliran filsafat abad pertengahan yang penganut-penganutnya mempertahankan bahwa konsepsi-konsepsi generik hanyalah nama-nama dari obyek-obyek yang analog. — Red.

 

8

 “Qual” adalah suatu permainan kata-kata filsafat. Qual menurut arti katanya berarti siksaan, rasa sakit yang mendorong berbuat sesuatu macam aksi; bersamaan itu Böhme yang mistik itu menerjemahkan dalam kata Jerman sebagai sesuatu yang berarti qualitas dalam bahasa Latin; “qual"-nya dia adalah prinsip yang mengaktifkan yang timbul dari, dan pada gilirannya melancarkan, perkembangan spontan dari hal-ihwal, hubungan, atau orang yang terkena olehnya, bertentangan dengan rasa sakit yang ditimpakan dari luar. (Catatan Engels pada edisi bahasa Inggris).

 

9

 Teistis: Bertalian dengan teisme, ajaran filsafat-religius di mana diakui adanya dewata perseorangan, pencipta alam-dunia. — Red.

 

10

 Deisme: Suatu aliran filsafat-religius yang menolak ide dewata perseorangan tetapi mengakui ide ke-Tuhanan sebagai Sebab Pertama yang tidak bersifat perseorangan dari dunia. — Red.

 

11

 Marx dan Engels, Die Heilige Familie, Frankfort a.M. 1845, hal. 201-204. (Catatan Engels).

Judul selengkapnya dari buku Marx dan Engels ini adalah: Die Heilige Familie oder Kritik der kritischen Kritik. Gegen Bruno Bauer und Konsorten. (Keluarga Suci, atau Kritik terhadap Kritik yang Kritis. Menentang Bruno Bauer dkk.) — Red.

 

12

 P. S. Laplace, Traite de mécanique céleste (Uraian tentang Mekanisme Kesurgaan) Jilid I-V, Paris 1799-1825. — Red.

 

13

 “Saya tidak memerlukan hipotese ini”. — Red.

 

14

 Pada mulanya adalah perbuatan. Dari Faust Goethe. — Red.

 

15

 Anak laki-laki yang kuat tapi jail — Red.

 

16

 Kalian menulis London dan kalian ucapkan Konstantinopel. — Red. JP.

 

17

 Undang-Undang Gandum: Perjuangan melawan pembatasan-pembatasan impor gandum di Inggris berakhir dalam tahun 1846 dengan diterimanya undang-undang yang menentukan penghapusan tarif-tarif gandum dalam tiga tahun. Dalam tahun 1849 sesuai dengan itu tarif-tarif itu dihapuskan. — Red.

 

18

 Saudara Jonathan: nama-julukan dulu untuk Uncle Sam (Amerika Serikat). — Red.

 

19

 Dan bahkan dalam soal-soal dagang pun, keangkuhan dari sovinisme nasional hanyalah merupakan penasehat yang buruk. Sampai baru-baru ini saja, tuan pabrik Inggris rata-rata memandang sebagai merendahkan bagi seorang Inggris berbicara dengan sesuatu bahasa lain kecuali bahasanya sendiri, dan lebih merasa bangga daripada sebaliknya akan kenyataan bahwa “orang-orang malang”, yaitu orang-orang asing, menetap tinggal di Inggris dan merebut dari tangan dia usaha untuk menjual barang-barang hasilnya ke luar negeri. Dia tidak pernah memperhatikan bahwa orang-orang asing ini, kebanyakan orang-orang Jerman, dengan begitu menguasai sebagian yang sangat besar dari perdagangan luar negeri Inggris, impor dan ekspor, dan bahwa perdagangan luar negeri yang langsung dari orang-orang Inggris menjadi terbatas hampir sama sekali pada tanah-tanah jajahan, Tiongkok, Amerika Serika dan Amerika Selatan. Juga dia tidak memperhatikan bahwa orang-orang Jerman ini berdagang dengan orang-orang Jerman lainnya di luar negeri, yang secara berangsur-angsur mengorganisasi suatu jaringan yang lengkap dari koloni-koloni dagang di seluruh dunia. Tetapi ketika Jerman, kira-kira empat puluh tahun yang lalu, mulai dengan serius membuat barang-barang pabrik untuk ekspor, jaringan ini secara mengagumkan membantu dalam mengubahnya, dalam tempo yang begitu pendek, dari sebuah negeri yang mengekspor gandum menjadi sebuah negeri pabrik kelas satu. Kemudian, kira-kira sepuluh tahun yang lalu, tuan pabrik Inggris menjadi ketakutan dan bertanya kepada para duta besar serta konsulnya bagaimana sampai dia tidak dapat lagi mempertahankan para langganannya. Jawabannya yang bulat: (1) Kau tidak mempelajari bahasa langgananmu tetapi mengharapkan dia berbicara dengan bahasamu sendiri; (2) Kau bahkan tidak berusaha menyesuaikan diri dengan kebutuhan-kebutuhan, kebiasaan-kebiasaan serta cita rasa-cita rasa langgananmu, tapi mengharapkan dia menyesuaikan diri dengan kebutuhan-kebutuhan, kebiasaan-kebiasaan serta cita rasa-cita rasa Inggrismu. (Catatan Engels).


 

 

 

 

Bab I

 

Perkembangan Sosialisme Dari Utopi Menjadi Ilmu

 

 

Sosialisme modern pada hakekatnya adalah, di satu pihak, produk langsung dari pengakuan atas antagonisme-antagonisme kelas yang ada di dalam masyarakat sekarang antara kaum pemilik dengan kaum bukan-pemilik, antara kaum kapitalis dengan kaum buruh-upahan; di lain pihak, dari pengakuan atas anarki yang ada di dalam produksi. Tetapi, dalam bentuk teorinya, Sosialisme modern semula nampaknya seolah-olah sebagai perluasan yang lebih logis dari prinsip-prinsip yang diletakkan oleh ahli-ahli filsafat besar Perancis abad ke-18. Seperti setiap teori yang baru, Sosialisme modern juga mula-mula harus menghubungkan diri dengan persediaan-barang intelek yang telah tersedia, betapapun juga dalamnya akar-akarnya itu terletak di dalam fakta-fakta ekonomi materiil.

Orang-orang besar, yang di Perancis mempersiapkan pikiran orang-orang untuk revolusi yang mendatang, itu sendiri adalah kaum revolusionis yang ekstrim. Mereka tidak mengakui otoritet luar macam apapun juga. Agama, ilmu alam, masyarakat, lembaga-lembaga politik — segala-galanya kena kritik yang paling tidak kenal belas kasihan: semuanya harus membuktikan hak hidupnya di muka pengadilan akal atau melepaskannya. Akal menjadi satu-satunya ukuran bagi segala-galanya. Ini adalah masa ketika, seperti kata Hegel, dunia berdiri di atas kepalanya[1]; pertama dalam arti bahwa kepala manusia, dan prinsip-prinsip yang dicapai oleh pikirannya, dikatakan sebagai dasar dari segala tindakan dan pergaulan manusia; tetapi kemudian, juga dalam arti yang lebih luas bahwa realitet yang bertentangan dengan prinsip-prinsip ini, sebenarnya, harus dijungkirbalikkan. Setiap bentuk masyarakat dan pemerintah yang ada pada waktu itu, setiap gagasan lama yang tradisionil dibuang ke dalam gudang barang rombengan sebagai tidak rasionil; dunia hingga kini telah membiarkan dituntun semata-mata oleh prasangka-prasangka; segala sesuatu di masa lampau hanya patut dikasihani dan dicemoohkan. Kini, untuk pertama kalinya, menyingsing fajar, kerajaan akal; mulai sekarang takhayul, ketidakadilan, hak istimewa, penindasan, harus diganti dengan kebenaran abadi, keadilan abadi, persamaan berdasarkan Alam serta hak-hak manusia yang tak dapat diganggu-gugat.

Kita sekarang tahu bahwa kerajaan akal ini tidak lebih daripada kerajaan borjuasi yang diidealisasi; bahwa Keadilan abadi ini menemukan realisasinya dalam peradilan borjuis; bahwa persamaan ini telah memerosotkan diri pada persamaan borjuis di muka undang-undang; bahwa hak milik borjuis telah diproklamasikan sebagai salah satu hak hakiki manusia; dan bahwa pemerintahan akal, Kontrak Sosial Rousseau, telah dan hanya bisa lahir sebagai suatu republik borjuis demokratis. Ahli pikir-ahli pikir besar abad ke-18, seperti juga pendahulu-pendahulu mereka, tidak dapat melampaui batas-batas yang diletakkan pada mereka oleh zaman mereka.

Tetapi, berdampingan dengan antagonisme di antara kaum ningrat feodal dengan kaum wargakota, yang menyatakan mewakili seluruh masyarakat yang selebihnya, terdapat antagonisme umum antara kaum penghisap dengan kaum terhisap, antara orang-orang kaya yang tak bekerja dengan kaum buruh yang miskin. Justru keadaan inilah yang memungkinkan wakil-wakil borjuasi mengajukan diri sebagai mewakili bukan satu kelas khusus, melainkan seluruh umat manusia yang menderita. Lebih lanjut lagi. Dari sejak lahirnya borjuasi dibebani oleh antitesanya: kaum kapitalis tidak bisa ada tanpa kaum buruh-upahan dan, dengan makin berkembangnya wargakota-gilda zaman pertengahan menjadi borjuis modern, maka tukang-pembantu gilda dan buruh-harian di luar gilda-gilda berkembang menjadi proletar. Dan meskipun, pada umumnya, dalam perjuangan mereka melawan kaum ningrat borjuasi dapat menyatakan mewakili dalam pada itu juga kepentingan-kepentingan berbagai kelas buruh pada periode itu, namun di dalam setiap gerakan borjuis yang besar terdapat letusan-letusan bebas dari kelas itu yang merupakan pelopor, yang sedikit atau banyak maju, dari proletariat modern. Misalnya, kaum Anabaptis[2] dan Thomas Münzer pada masa Reformasi Jerman dan Perang Tani; kaum Leveller[3] dalam Revolusi besar Inggris; Babeuf, dalam Revolusi besar Perancis.

Ada pernyataan-pernyataan teori yang sesuai dengan pemberontakan-pemberontakan revolusioner ini dari suatu kelas yang belum berkembang; dalam abad-abad ke-16 dan ke-17, gambaran-gambaran utopis tentang keadaan-keadaan sosial yang dicita-citakan[4]; dalam abad ke-18, teori-teori Komunis yang betul-betul (Morely dan Mably). Tuntutan akan persamaan tidak lagi terbatas pada hak-hak politik; ia diperluas juga sampai pada syarat-syarat sosial individu-individu. Bukan hanya hak-hak istimewa kelas saja yang harus dihapuskan, tetapi juga perbedaan-perbedaan kelas itu sendiri. Suatu Komunisme, yang bersifat ketapaan, yang menolak semua kesenangan hidup, yang bersifat Spartan, adalah bentuk pertama dari ajaran baru itu. Kemudian muncul tiga orang Utopis besar: Saint-Simon, yang baginya gerakan kelas-tengah, berdampingan dengan gerakan proletar, masih mempunyai arti tertentu; Fourier; dan Owen, yang di negeri di mana produksi kapitalis sangat maju, dan di bawah pengaruh antagonisme-antagonisme yang dilahirkannya, mengembangkan usul-usulnya untuk menghilangkan perbedaan kelas secara sistematis dan dalam hubungan langsung dengan materialisme Perancis.

Satu hal adalah sama bagi semua ketiga-tiganya. Tidak satupun dari mereka itu tampil sebagai wakil kepentingan-kepentingan proletariat yang sementara itu telah dihasilkan oleh perkembangan sejarah. Seperti ahli-ahli filsafat Perancis, mereka tidak menyatakan akan membebaskan suatu kelas tertentu mula-mula, tetapi seluruh umat manusia sekaligus. Seperti mereka, ketiga tokoh itu juga ingin mendatangkan kerajaan akal dan keadilan abadi, tetapi kerajaan ini, menurut hemat mereka, adalah jauh dari kerajaan ahli-ahli filsafat Perancis, sama jauhnya seperti dari bumi ke langit.

Karena, bagi ketiga pembaru sosial kita itu, dunia borjuis, yang berdasarkan prinsip-prinsip para ahli filsafat ini, adalah sangat tidak rasionil dan tidak adil dan, oleh karenanya, menemukan jalannya ke lubang sampah sama sangat gampangnya seperti feodalisme dan semua tingkat masyarakat yang terdahulu. Jika akal murni serta keadilan sampai sekarang belum memerintah dunia, hal ini hanya karena manusia belum memahaminya secara benar. Apa yang dibutuhkan ialah seorang zeni yang kini telah muncul dan yang memahami kebenaran. Bahwa ia kini telah muncul, bahwa kebenaran kini telah dimengerti dengan jelas, bukanlah suatu kejadian yang tak dapat dielakkan, yang menurut keharusan di dalam rangkaian perkembangan sejarah, melainkan hanyalah suatu kejadian secara kebetulan yang menggembirakan. Ia bisa juga dilahirkan 500 tahun lebih cepat dan dengan demikian telah dapat menyelamatkan umat manusia 500 tahun lamanya dari kesalahan, perjuangan dan penderitaan.

Kita telah melihat bagaimana ahli-ahli filsafat Perancis dari abad ke-18, pelopor-pelopor Revolusi, menarik perhatian orang kepada akal sebagai satu-satunya hakim dari semua yang ada. Suatu pemerintah yang rasionil, masyarakat yang rasionil, harus didirikan; segala sesuatu yang berlawanan dengan akal yang abadi harus ditiadakan dengan tak kenal belas kasihan. Kita melihat pula bahwa akal yang abadi ini pada hakekatnya tidaklah lain daripada pengertian yang diidealisasi dari wargakota abad ke-18, yang ketika itu sedang berkembang menjadi borjuis. Revolusi Perancis telah melaksanakan masyarakat dan pemerintah yang rasionil ini.

Tetapi keadaan yang baru itu, yang cukup rasionil jika disbanding dengan keadaan-keadaan yang terdahulu, ternyata sekali-kali tidak rasionil secara absolut. Negara yang berdasarkan akal itu sama sekali ambruk. Kontrak Sosial Rousseau telah menemukan pelaksanaannya dalam Pemerintahan Terror, dari mana borjuasi, yang telah kehilangan kepercayaan kepada kesanggupan politik mereka sendiri, telah mencari tempat berlindung mula-mula pada pengkorupsian Direktorat dan, akhirnya, di bawah sayap despotisme Napoleontis. Perdamaian abadi yang dijanjikan berubah menjadi perang penaklukkan yang tiada akhirnya. Masyarakat yang berdasarkan akal ternyata tidak lebih baik. Antagonisme antara kaya dan miskin, bukannya lebur menjadi kemakmuran yang umum, malahan telah menjadi diperhebat dengan dihapuskannya hak-hak istimewa gilda dan hak-hak istimewa lainnya, yang hingga batas-batas tertentu telah menjembataninya, dan dengan ditiadakannya lembaga-lembaga amal dari Gereja, “Kemerdekaan milik” dari belenggu-belenggu feodal, yang kini sungguh-sungguh telah tercapai, ternyata bagi kaum kapitalis kecil dan kaum pemilik kecil merupakan kemerdekaan untuk menjual milik mereka yang kecil, yang tergilas di bawah persaingan yang menguasai dari kapitalis-kapitalis besar dan tuan-tuan tanah besa, kepada tuan-tuan besar ini dan, dengan begitu, bagi kapitalis-kapitalis kecil dan pemilik-pemilik tani kecil, menjadi “kemerdekaan dari milik”. Perkembangan industri atas dasar kapitalis membuat kemiskinan dan kesengsaraan massa pekerja menjadi syarat-syarat bagi hidupnya masyarakat. Pembayaran tunai, menurut kata-kata Carlyle, kian lama kian menjadi satu-satunya pertalian antara manusia dengan manusia. Jumlah kejahatan meningkat dari tahun ke tahun. Dulu, kejahatan-kejahatan feodal secara terang-terangan berjalan dengan gagahnya di siang hari cerah; sekarang meskipun tidak dibasmi, setidak-tidaknya kejahatan-kejahatan itu telah didesak ke belakang. Sebagai gantinya, kejahatan-kejahatan borjuis yang selama ini dilakukan dengan sembunyi-sembunyi, mulai berkembang mekar dengan semakin subur lagi. Perdagangan kian lama kian menjadi bersifat penipuan. “Persaudaraan” dari semboyan revolusioner dilaksanakan dalam penipuan dan kongkruensi dari pergulatan persaingan. Penindasan dengan kekerasan telah diganti dengan penyuapan; pedang, sebagai pengungkit kemasyarakatan yang pertama, diganti dengan emas. Hak malam pertama telah diserahkan dari tuan-tuan feodal kepada tuan-tuan pabrik borjuis. Pelacuran meningkat hingga batas yang belum pernah terdengar sebelumnya. Perkawinan itu sendiri, seperti dulu, tetapi merupakan bentuk pelacuran yang diakui menurut undang-undang, jubah resmi pelacuran, dan lagipula, ditambah dengan panen perzinahan yang tumpah-ruah.

Pendek kata, dibanding dengan janji-janji yang bagus-bagus dari para ahli filsafat, lembaga-lembaga sosial dan politik yang lahir dari “kemenangan akal” itu merupakan karikatur-karikatur yang pahit mengecewakan. Yang kurang ialah orang-orang yang untuk merumuskan kekecewaan ini, dan mereka muncul pada pergantian abad. Dalam tahun 1802 surat-surat Jenewa dari Saint-Simon terbit; dalam tahun 1808 keluarlah karya pertama Fourier; meskipun dasar teorinya mulai sejak dari tahun 1799; pada 1 Januari 1800, Robert Owen mengambil pimpinan New Lanark.

Akan tetapi, pada waktu itu cara produksi kapitalis, dan bersama dengannya antagonisme antara borjuasi dengan proletariat, masih berkembang dengan sangat tidak sempurnanya. Industri Modern, yang baru saja timbul di Inggris, masih belum dikenal di Perancis. Tetapi Industri Modern, di satu pihak, mengembangkan bentrokan-bentrokan yang membikin suatu revolusi di dalam cara produksi menjadi mutlak perlu, serta peniadaan wataknya yang kapitalis — bentrokan-bentrokan tidak hanya di antara kelas-kelas yang dilahirkan olehnya, tetapi juga antara tenaga-tenaga produktif dengan bentuk-bentuk pertukaran itu sendiri yang diciptakannya. Dan, di pihak lain, ia mengembangkan di dalam tenaga-tenaga produktif yang raksasa itu sendiri alat-alat untuk mengakhiri bentrokan-bentrokan ini. Karena itu jika pada sekitar tahun 1800 konflik-konflik yang timbul dari susunan kemasyarakatan yang baru itu baru saja mulai mengambil bentuk, maka hal ini berlaku lebih sepenuhnya lagi bagi alat-alat untuk mengakhirinya . Massa “yang tidak mempunyai apa-apa” di Paris selama Pemerintahan Teror telah mampu untuk sebentar memegang kekuasaan, dan dengan demikian memimpin revolusi borjuis ke arah kemenangan bertentangan dengan kehendak borjuasi itu sendiri. Tetapi, dengan berbuat demikian, mereka hanya membuktikan betapa tidak mungkinnya bagi kekuasaan mereka untuk bertahan di bawah syarat-syarat yang terdapat ketika itu. Proletariat, yang pada waktu itu untuk pertama kalinya mengembangkan diri dari massa “yang tidak mempunyai apa-apa” ini sebagai inti dari suatu kelas baru, masih sama sekali belum mampu menjalankan aksi politik yang bebas, tampil sebagai kaum yang tertindas, yang menderita, yang baginya, dalam ketidaksanggupannya untuk menolong diri sendiri, bantuan bisa didatangkan paling banter dari luar atau dari atas.

Situasi sejarah demikian ini juga menguasai pendiri-pendiri Sosialisme. Teori-teori yang belum matang bersesuaian dengan syarat-syarat produksi kapitalis yang belum matang dan syarat-syarat kelas yang belum matang. Pemecahan masalah-masalah sosial, yang masih tersembunyi di dalam syarat-syarat ekonomi yang belum berkembang, diusahakan oleh kaum utopis untuk mengembangkannya dari otak manusia. Masyarakat menyajikan tidak lain kecuali ketidakadilan; untuk menghilangkan ketidakadilan-ketidakadilan ini adalah tugas akal. Maka itu perlu menemukan suatu sistem susunan kemasyarakatan yang baru dan lebih sempurna serta mendesakkannya kepada masyarakat dari luar dengan propaganda dan, di mana mungkin, dengan teladan percobaan-percobaan yang bisa dijadikan model. Sistem-sistem kemasyarakatan yang baru ini ditakdirkan sebagai utopis; semakin lengkap sistem-sistem ini dikerjakan secara merinci, semakin tidak mungkin mereka mengelakkan diri hanyut ke dalam fantasi-fantasi belaka.

Sekali fakta-fakta ini ditetapkan, kita tidak perlu membicarakan lebih lama lagi segi ini dari masalah tersebut, yang kini sama sekali sudah termasuk masa lampau. Kita dapat menyerahkannya kepada orang-orang literer kecil untuk dengan khidmat beradu lidah mengenai fantasi-fantasi ini, yang kini hanya membuat kita tersenyum, dan untuk menggembar-gemborkan keunggulan daya-berpikir mereka sendiri yang gundul jika dibanding dengan “kegilaan” semacam itu. Bagi kita sendiri, kita bergembira atas pikiran-pikiran dan benih-benih pikiran agung yang sangat mengagumkan yang di mana-mana meletus dari selubung mereka yang fantastis dan yang terhadap pikiran-pikiran ini kaum pilistin (orang-orang yang picik pandangannya — Red. JP) buta.

Saint-Simon adalah putra Revolusi besar Perancis, yang pada saat meletusnya ia belum lagi berusia tiga puluh tahun. Revolusi itu adalah kemenangan pangkat ketiga, yaitu, massa yang luas dari nasion, yang bekerja dalam produksi dan perdagangan, atas kelas-kelas yang tidak bekerja yang berhak istimewa, kaum ningrat dan kaum pendeta. Tetapi kemenangan pangkat ketiga itu segera memperlihatkan diri sebagai semata-mata kemenangan sebagian kecil dari “pangkat” ini, sebagai perebutan kekuasaan politik oleh bagiannya yang berhak istimewa di lapangan sosial, yaitu, borjuasi yang bermilik. Dan borjuasi sudah barang tentu telah berkembang dengan cepat selama Revolusi, sebagian melalui spekulasi atas tanah-tanah kaum bangsawan dan Gereja yang disita dan kemudian dijual, dan sebagian karena penipuan-penipuan terhadap nasion melalui kontrak-kontrak militer. Adalah kekuasaan penipu-penipu ini yang telah membawa Perancis, di bawah Direktorat, ke tepi jurang keruntuhan dan dengan demikian memberikan dalih kepada Napoleon untuk melakukan kudeta-nya.

Dari itu bagi Saint-Simon antagonisme antara pangkat ketiga dengan kelas-kelas yang berhak istimewa itu mengambil bentuk antagonisme antara “pekerja” dengan “orang-orang yang tak bekerja”. Orang-orang yang tak bekerja itu tidak hanya kelas-kelas lama yang berhak istimewa, tetapi juga semua orang yang tanpa mengambil sesuatu bagian dalam produksi atau distribusi hidup atas pendapatan-pendapatan mereka. Dan kaum pekerja itu bukan hanya kaum buruh-upahan, tetapi juga tuan-tuan pabrik, pedagang-pedagang, bankir-bankir. Bahwasanya orang-orang yang tidak bekerja itu telah kehilangan kemampuan untuk memegang pimpinan intelektuil dan kekuasaan politik telah dibuktikan dan akhirnya telah diputuskan oleh Revolusi. Bahwa kelas-kelas yang tak bermilik itu tidak mempunyai kemampuan ini agaknya bagi Saint-Simon telah dibuktikan oleh pengalaman-pengalaman Pemerintahan Teror. Lalu, siapakah yang harus memimpin dan memerintah? Menurut Saint-Simon ilmu dan industri, yang kedua-duanya dipersatukan oleh ikatan agama baru, ditakdirkan untuk memulihkan persatuan ide-ide agama yang telah hilang sejak masa Reformasi — suatu “agama Kristen baru” yang mesti bersifat mistik dan kaku hierarkinya. Tetapi ilmu, itu adalah kaum terpelajar; dan industri, itu pertama-tama, adalah borjuis pekerja, tuan-tuan pabrik, pedagang-pedagang, bankir-bankir. Borjuis ini sudah tentu dikehendaki oleh Saint-Simon supaya mengubah diri menjadi semacam pegawai-pegawai umum, semacam wali-wali sosial; tetapi mereka toh harus memegang kedudukan memerintah dan berhak istimewa dalam ekonomi terhadap kaum buruh. Bankir-bankir terutama harus diminta untuk memimpin seluruh produksi sosial melalui peraturan kredit. Konsepsi ini tepat sesuai dengan masa di mana Industri Modern di Perancis dan, bersamanya, jurang antara borjuasi dengan proletariat baru saja lahir. Tetapi apa yang terutama sekali ditekankan oleh Saint-Simon ialah ini: yang menarik perhatiannya pertama-tama dan di atas segala sesuatu lainnya, ialah nasib kelas yang paling banyak jumlahnya dan yang paling miskin (“la classe la plus nombreuse et la plus pauvre”).

Sudah dalam surat-surat Jenewanya, Saint-Simon menetapkan dalil bahwa “semua orang harus bekerja.” Dalam karyanya yang sama itu juga dia mengakui pula bahwa Pemerintahan Teror adalah pemerintahan massa yang tak bermilik. “Lihatlah”, katanya kepada mereka, “apa yang terjadi di Perancis pada waktu kawan-kawan kalian memegang kekuasaan di sana; mereka menimbulkan kelaparan”. Tetapi untuk mengakui Revolusi Perancis sebagai suatu perang kelas, dan bukan perang kelas semata-mata antara kaum bangsawan, borjuasi dan kaum tak bermilik, dalam tahun 1802, merupakan suatu penemuan yang sangat besar artinya. Dalam tahun 1816 dia menyatakan bahwa politik adalah ilmu tentang produksi dan meramalkan diserapnya sama sekali politik oleh ekonomi. Pengetahuan bahwa syarat-syarat ekonomi merupakan dasar dari lembaga-lembaga politik di sini baru muncul dalam bentuk embrio. Tetapi apa yang di sini sudah sangat jelas dinyatakan ialah ide tentang perubahan kekuasaan politik atas manusia di masa depan menjadi administrasi dari barang-barang dan pimpinan atas proses-proses produksi, artinya “penghapusan negara” yang akhir-akhir ini telah begitu banyak diributkan orang.

Saint-Simon memperlihatkan keunggulan yang sama atas rekan-rekannya sezaman, ketika dalam tahun 1814, segera setelah masuknya sekutu ke Paris, dan sekali lagi dalam tahun 1815, selama Perang Seratus Hari, dia memproklamasikan persekutuan Perancis dengan Inggris, dan kemudian persekutuan kedua negeri ini dengan Jerman, sebagai satu-satunya jaminan bagi perkembangan yang makmur dan perdamaian di Eropa. Untuk mengkhotbahkan kepada bangsa Perancis dalam tahun 1815 suatu persekutuan dengan pemenang-pemenang Waterloo, diperlukan keberanian yang sama seperti halnya pandangan ke depan sejarah.

Jika pada diri Saint-Simon kita menemukan keluasan pandangan yang lapang, yang oleh karenanya hampir semua ide dari orang-orang Sosialis kemudian yang tidak mutlak bersifat ekonomi terdapat padanya dalam bentuk embrio, kita dapati pada Fourier suatu kritik terhadap keadaan-keadaan masyarakat yang ada, kritik yang sungguh-sungguh bersifat Perancis dan jenaka, tetapi tidak karena itu menjadi kurang mendalam. Fourier memegang borjuasi, nabi-nabi mereka yang bersemangat sebelum Revolusi, dan penyanjung-penyanjung mereka yang berkepentingan sesudahnya, pada kata-kata mereka sendiri. Tanpa belas kasihan dia menelanjangi kemiskinan materiil dan moril dunia borjuis. Dia mengkonfrontasikannya dengan janji-janji dulu yang menyilaukan dari ahli-ahli filsafat mengenai masyarakat di mana akal saja yang akan memerintah, mengenai peradaban di mana kebahagiaan akan bersifat universal, mengenai kesempurnaan manusia yang tak terbatas, dan dengan kata-kata indah dari ideologis-ideologis borjuis zamannya. Ditunjukkannya betapa di mana-mana kenyataan yang sangat menyedihkan sesuai dengan kata-kata yang sangat muluk-muluk, dan dia mengeroyok kegagalan yang tiada harapan lagi dari kata-kata ini dengan sarkasmenya yang pedas-tajam.

Fourier bukan hanya seorang kritikus; sifatnya yang tenang dingin-kepala membuat dia menjadi seorang satiris, dan pastilah salah seorang satiris yang terbesar dari segala zaman. Digambarkannya, dengan sama kuat dan menawannya, spekulasi-spekulasi yang menipu yang bekembang subur di atas keruntuhan Revolusi, dan semangat tukang warung yang umum dan karakteristik pada perdagangan Perancis pada waktu itu. Lebih-lebih hebat lagi ialah kritiknya terhadap bentuk hubungan-hubungan borjuis di antara jenis kelamin, dan kedudukan wanita dalam masyarakat borjuis. Dialah yang pertama menyatakan bahwa di dalam sesuatu masyarakat tertentu tingkat emansipasi wanita adalah ukuran yang wajar dari emansipasi umum.

Tetapi Fourier berada pada puncaknya dalam konsepsinya tentang sejarah masyarakat. Dia membagi seluruh jalannya sejarah, hingga kini, menjadi empat tingkatan evolusi — kebiadaban, barbarisme, patriarkat dan peradaban. Yang terakhir ini adalah identik dengan apa yang dinamakan masyarakat sipil atau masyarakat borjuis dewasa ini — yaitu, dengan susunan kemasyarakatan yang datang bersama abad ke-16. Dia membuktikan bahwa “tingkatan yang beradab mengangkat setiap kejahatan yang dipraktekkan oleh barbarisme dalam bentuk sederhana menjadi suatu bentuk eksistensi yang rumit, bermakna-rangkap, menyangsikan, munafik — bahwa peradaban bergerak dalam “suatu lingkaran tak berujung-pangkal”, dalam kontradiksi-kontradiksi yang senantiasa direproduksinya tanpa dapat memecahkannya; sebab itu ia senantiasa sampai justru pada kebalikan dari yang hendak dicapainya, atau yang pura-pura hendak dicapainya, sehingga, misalnya, “di bawah peradaban kemiskinan dilahirkan oleh kelimpah-ruahan itu sendiri.”

Fourier, seperti kita lihat, menggunakan metode dialektik dengan cara yang ulungnya seperti rekan sezamannya, Hegel. Dengan menggunakan dialektika yang sama ini dia membantah omongan tentang kesempurnaan manusia yang tak terbatas, bahwa setiap fase sejarah mempunyai masa menaik dan juga menurunnya dan dia menerapkan peninjauan ini pada masa depan seluruh umat manusia. Seperti Kant memasukkan dalam ilmu alam ide tentang kehancuran terakhir bumi, maka Fourier juga memasukkan ke dalam ilmu sejarah ide tentang kehancuran terakhir umat manusia.

Sementara di Perancis badai Revolusi menyapu negeri, di Inggris berlangsung suatu revolusi yang lebih tenang, tetapi bukan karena itu lalu menjadi kurang hebat. Mesin uap dan mesin baru membuat perkakas sedang mengubah manufaktur menjadi industri modern, dan dengan demikian merevolusikan seluruh dasar masyarakat borjuis. Kemajuan yang lembam dari perkembangan periode manufaktur berubah menjadi “Sturm und Drang” (masa perjuangan dan pergolakan) yang sungguh-sungguh. Dengan kecepatan yang senantiasa bertambah besar perpecahan masyarakat menjadi kaum kapitalis besar dan kaum proletar yang tak bermilik berjalan terus. Di antara mereka ini, bukannya kelas-tengah yang stabil dulu, melainkan suatu massa yang tidak stabil dari tukang-tukang dan pomilik-pemilik toko kecil, yaitu bagian penduduk yang paling naik-turun, yang kini hidupnya tak tentu.

Cara produksi yang baru itu masih baru pada permulaan masa menaiknya; ia masih merupakan cara produksi yang normal, teratur — satu-satunya yang mungkin di bawah syarat-syarat yang sedang berlaku. Meskipun demikian, bahkan pada waktu itupun ia sudah menghasilkan keburukan-keburukan sosial yang menyolok — pengelompokan penduduk yang tak bertempat tinggal di bagian-bagian yang paling buruk dari kota-kota besar; pelonggaran semua ikatan moril yang tradisionil, pembawahan patriarchal, hubungan-hubungan kekeluargaan; bekerja terlalu berat, terutama wanita-wanita dan kanak-kanak, sampai pada batas yang mengerikan; demoralisasi sama sekali dari kelas buruh, yang sekonyong-konyong dicampakkan ke dalam keadaan-keadaan yang sama sekali baru, dilemparkan dari pedesaan ke kota, dari pertanian ke industri modern, dari syarat-syarat hidup yang stabil ke syarat-syarat hidup yang tidak stabil yang berubah-ubah dari hari ke hari.

Pada saat yang genting ini tampil ke depan seorang tuan pabrik berusia 29 tahun sebagai seorang pembaru — seorang yang memiliki watak kesederhanaan yang hampir luhur, seperti anak-anak, dan bersamaan dengan itu salah seorang pemimpin manusia yang tidak banyak dilahirkan. Robert Owen telah mengoper ajaran ahli-ahli filsafat materialis: bahwa watak manusia itu, di satu pihak, adalah hasil keturun-temurunan; di pihak lain, hasil lingkungan individu selama hidupnya dan terutama sekali selama masa perkembangannya. Kebanyakan dari kelasnya melihat pada revolusi industri hanya kekacauan dan kekalutan, serta kesempatan untuk memancing di air keruh dan mencari keuntungan-keuntungan besar dengan cepat. Robert Owen melihat pada revolusi industri itu kesempatan untuk mempraktekkan teori kesayangannya dan dengan demikian kesempatan untuk mendatangkan ketertiban pada kekacauan. Dia telah mencobanya dengan sukses, sebagai pengawas dari lima ratus orang lebih di sebuah pabrik di Manchester. Dari 1800 sampai 1829 dia memimpin pabrik tenun besar di New Lanark, di Skotlandia, sebagai rekan pengurus, menurut garis-garis yang sama, tetapi dengan kebebasan bertindak yang lebih besar dan dengan sukses yang memberikan kepadanya nama baik di Eropa. Suatu penduduk, yang semula terdiri dari elemen-elemen yang sangat bermacam-ragam dan yang untuk sebagian terbesar sangat menjadi demoralisasi, suatu penduduk yang berangsur-angsur bertambah besar menjadi 2.500 jiwa, diubahnya menjadi suatu koloni teladan, di mana mabuk-mabukan, polisi, hakim, proses-proses pengadilan, undang-undang kemiskinan, lembaga-lembaga amal, tidak dikenal. Dan semuanya ini hanya dengan menempatkan orang-orang itu dalam keadaan-keadaan yang layak bagi manusia, dan terutama dengan penuh perhatian mendidik angkatan muda. Dia adalah pendiri taman kanak-kanak-taman kanak-kanak dan membuka taman kanak-kanak itu pertama-tama di New Lanark. Pada usia dua tahun anak-anak masuk taman kanak-kanak, di mana mereka demikian bersenang-senang sehingga hampir tak bisa diajak pulang lagi. Sedang saingan-saingannya mempekerjakan orang-orangnya tiga belas atau empat belas jam sehari, di New Lanark hari kerja hanya sepuluh setengah jam. Ketika krisis kapas menghentikan pekerjaan untuk empat bulan lamanya, buruh-buruhnya terus menerima upah mereka yang penuh selama itu. Dan dengan semuanya ini perusahaan naik nilainya lipat dua kali lebih dan sampai pada akhirnya memberikan laba-laba yang besar kepada pemilik-pemiliknya.

Kendatipun semuanya ini Owen tidak merasa puas. Kehidupan yang dia jamin bagi buruh-buruhnya, menurut pandangannya, masih jauh daripada layak bagi manusia. “Orang-orang itu adalah budak-budak dalam kekuasaanku.” Keadaan-keadaan yang secara relatif di mana ia telah menempatkan mereka masih jauh daripada memungkinkan suatu perkembangan yang rasionil dari watak dan intelek ke semua jurusan, apalagi bagi penggunaan secara bebas dari semua kecakapan mereka. “Meskipun demikian, bagian yang bekerja dari penduduk 2.500 jiwa ini setiap harinya menghasilkan kekayaan riil bagi masyarakat sebanyak, kurang dari setengah abad sebelumnya, yang semestinya untuk menciptakannya diperlukan bagian yang bekerja dari penduduk sejumlah 600.000 jiwa. Saya bertanya kepada diri sendiri, apa yang terjadi dengan selisih antara kekayaan yang dikonsumsi oleh 2.500 orang dengan yang semestinya dikonsumsi oleh 600.000 orang itu?"[5]

Jawabnya jelas. Ia telah dipergunakan untuk membayar pemilik-pemilik perusahaan 5% atas kapital yang telah mereka keluarkan, selain £ 300.000 lebih sebagai laba bersih. Dan apa yang berlaku bagi New Lanark lebih-lebih lagi berlaku bagi semua pabrik di Inggris. “Seandainya kekayaan baru ini tidak diciptakan oleh mesin-mesin, yang telah dipergunakan secara tidak sempurna itu, maka peperangan-peperangan di Eropa melawan Napoleon, dan untuk menyokong prinsip-prinsip aristokratis dari masyarakat, tidak dapat dilakukan. Namun demikian, kekuatan baru ini adalah ciptaan kelas buruh."[6] Oleh karena itu, menjadi milik merekalah hasil-hasil dari kekuatan baru ini. Tenaga-tenaga produktif raksasa yang baru diciptakan, yang sampai kini hanya digunakan untuk memperkaya individu-individu dan untuk memperbudak massa, memberikan kepada Owen dasar-dasar untuk suatu pembangunan kembali masyarakat; tenaga-tenaga produktif itu ditakdirkan, sebagai milik umum dari semua, untuk dikerjakan bagi kesejahteraan bersama semua orang.

Komunismenya Owen adalah beralaskan dasar perusahaan ini semata-mata, hasil, boleh dikatakan, dari perhitungan dagang. Seluruhnya, ia mempertahankan watak praktis ini. Demikianlah, dalam tahun 1823 Owen mengusulkan peringanan bagi kesengsaraan di Irlandia dengan koloni-koloni Komunis dan menyusun anggaran yang lengkap dari ongkos-ongkos pembangunannya, pengeluaran setiap tahun dan pendapatan yang mungkin. Dan dalam rencananya yang pasti untuk masa depan, pengerjaan teknis dari detail-detail dilakukan dengan pengetahuan yang begitu praktis — peta dasar (platte grond), bagian depan dan samping serta pemandangan-pemandangan yang nampak dari atas termasuk semuanya — sehingga metode perubahan sosial dari Owen sekali diterima, maka dari pendirian praktis sedikit yang bisa dicela terhadap penyelenggaraan yang sebenarnya dari hal-hal yang kecil-kecil itu.

Kemajuannya ke arah Komunisme adalah titik balik dalam kehidupan Owen. Selama dia hanya seorang pilantropis (dermawan) saja, dia mendapat ganjaran tidak lain daripada kekayaan, tepuk tangan, kehormatan dan kemuliaan. Dia adalah orang yang paling populer di Eropa. Tidak hanya orang-orang dari kelasnya sendiri, tetapi juga negarawan-negarawan serta pangeran-pangeran mendengarkan dia dengan setuju. Tetapi ketika dia tampil keluar dengan teori-teori Komunisnya itu adalah soal yang lain sama sekali. Tiga rintangan besar menurut dia yang terutama menghalangi jalan ke arah perubahan kemasyarakatan: hak milik perseorangan, agama, bentuk perkawinan yang sekarang. Dia tahu apa yang akan dihadapinya jika ia menyerang semuanya ini — keadaan dibuang dan tidak dilindungi undang-undang lagi, pengeluaran dari masyarakat resmi, kehilangan seluruh kedudukan sosialnya. Tetapi tidak satupun dari semua ini yang menghalangi dia untuk menyerangnya tanpa takut akan akibat-akibatnya dan apa yang telah dia ramalkan terjadi. Dibuang dari masyarakat resmi, dengan komplotan bungkam terhadap dia dalam pers, jatuh bangkrut karena eksperimen-eksperimen Komunisnya yang tidak berhasil di Amerika, di mana dia telah mengorbankan semua kekayaannya, dia langsung berbalik kepada kelas buruh dan terus bekerja di tengah-tengah mereka selama tiga puluh tahun. Setiap gerakan sosial, setiap kemajuan yang nyata di Inggris untuk kepentingan kaum buruh berhubungan dengan nama Robert Owen. Dia memaksakan dalam tahun 1819, sesudah lima tahun berjuang, undang-undang pertama yang membatasi jam kerja bagi wanita dan anak-anak di pabrik-pabrik. Dia menjadi presiden Kongres pertama di mana semua serikat buruh Inggris bersatu dalam satu perserikatan buruh yang besar. Dia memperkenalkan sebagai tindakan-tindakan peralihan ke arah pengorganisasian masyarakat secara Komunis sepenuhnya, di satu pihak, perkumpulan-perkumpulan koperasi untuk perdagangan eceran dan produksi. Hal ini sejak waktu itu, sekurang-kurangnya, telah memberikan bukti praktis bahwa pedagang dan tuan pabrik secara sosial tidak perlu sama sekali. Di pihak lain, dia memperkenalkan pasar-pasar kerja untuk pertukaran hasil-hasil kerja dengan perantaraan uang kertas-kerja, yang kesatuannya ialah satu jam kerja; badan-badan yang mesti gagal, tetapi sepenuhnya mendahului bank pertukaran Proudhon pada masa jauh belakangan, dan berlainan sama sekali dengan ini dalam hal bahwa ia tidak menyatakan diri sebagai obat mujarab bagi segala penyakit masyarakat, tetapi hanya sebagai langkah pertama ke arah revolusi masyarakat yang jauh lebih radikal.

Cara berpikir dari Utopis itu untuk waktu yang lama telah menguasai ide-ide sosialis dari abad ke-19 dan masih menguasai beberapa diantaranya. Sampai akhir-akhir inipun semua Sosialis Perancis dan Inggris masih menghormatinya. Komunisme Jerman yang terdahulu, termasuk Komunisme Weitling, adalah dari mazhab yang sama. Bagi semuanya ini Sosialisme adalah merupakan pernyataan kebenaran absolute, akal dan keadilan, dan hanya harus ditemukan untuk menaklukkan seluruh dunia berdasarkan kekuatannya sendiri. Dan karena kebenaran absolute itu tidak bergantung pada waktu, ruang dan pada perkembangan sejarah manusia, maka hanyalah merupakan suatu kejadian yang kebetulan apabila dan di mana ia ditemukan. Dengan semuanya ini maka kebenaran absolut, akal dan keadilan adalah berbeda pada pendiri setiap mazhab yang berlain-lain. Dan karena tiap-tiap macam yang khusus dari kebenaran absolut, akal dan keadilan dari seseorang juga ditentukan oleh pengertiannya yang subyektif, syarat-syarat kehidupannya, ukuran pengetahuannya dan pendidikan inteleknya, maka tidaklah ada kesudahan lain yang mungkin dalam konflik di antara kebenaran-kebenaran absolut ini daripada bahwa mereka akan saling mengecualikan. Maka itu, tidaklah lain yang dapat keluar dari sini kecuali semacam Sosialisme rata-rata yang eklektis, yang sesungguhnya sampai sekarang menguasai pikiran sebagian besar kaum buruh Sosialis di Perancis dan Inggris. Karena itu, suatu campur-aduk yang mengizinkan adanya sangat bermacam-macam corak pendapat; suatu campur-aduk dari pernyataan-pernyataan kritis, teori-teori ekonomi, gambaran-gambaran tentang masyarakat di masa depan dari pendiri-pendiri dari lain-lain sekte yang membangkitkan perlawanan yang sekecil-kecilnya; suatu campur-aduk yang semakin mudah dimuaikan semakin pastilah ujung-ujung yang tajam dari satu-satu bagiannya tergosok dalam arus perdebatan, bagaikan batu-batu kerikil yang bundar di dalam anak sungai.

Untuk membikin Sosialisme menjadi suatu ilmu, pertama-tama ia harus diletakkan di atas dasar yang riil.

 

______


Catatan

 

 

1

Inilah bagian tentang Revolusi Perancis: "Pikiran, konsepsi hukum, sekonyong-konyong membikin dirinya terasa, dan untuk menentang ini perancah lama dari ketidakadilan tak dapat bertahan. Karena itu dalam konsepsi hukum ini sekarang telah dibentuk suatu konstitusi dan mulai sekarang segala-sesuatu harus berdasarkan ini. Sejak matahari berada dalam cakrawala dan planet-planet berputar di sekelilingnya, belum pernah nampak pandangan dari orang yang berdiri di atas kepalanya - yaitu, di atas Ide - dan membangun realitet menurut gambaran ini. Anaxagoras mula-mula mengatakan bahwa Nous, akal, memerintah dunia; tetapi sekarang, untuk pertama kali, orang menjadi mengakui bahwa Ide harus memerintah realitet mental. Dan ini adalah matahari terbit yang sangat bagus. Semua makhluk yang berpikir telah ikut-serta dalam merayakan hari suci ini. Suatu emosi yang luhur menguasai manusia pada waktu itu, suatu entusiasme akal memenuhi dunia, seolah-olah sekarang telah tiba perdamaian antara Prinsip Ilahi dengan dunia." (Hegel: Filsafat Sejarah, 1840, halaman 535). Tidakkah sudah tiba waktunya untuk memberlakukan undang-undang anti-Sosialis terhadap ajaran-ajaran sedemikian itu, yang subversif dan membahayakan umum, dari almarhum Profesor Hegel? (Catatan Engels).

 

2

Kaum Anabaptis (kaum Rebaptis: Pengikut-Pengikut suatu sekte keagamaan yang timbul di Jerman dan Nederland dalam abad ke-16. Selama Perang Tani 1524-1525 kaum Anabaptis, yang kebanyakannya adalah petani-petani, tukang-tukang dan pedagang-pedagang kecil, masuk ke dalam sayap yang paling revolusioner yang dipimpin oleh Thomas Münzer. - Red.

 

3

Yang dimaksudkan ialah "kaum Leveller sejati" atau "kaum penggali", seperti mereka itu dinamakan, yaitu wakil-wakil dari kepentingan-kepentingan kaum miskin kota dan pedesaan selama revolusi borjuis Inggris abad ke-17. - Red.

 

4

Yang dimaksud Engels di sini ialah karya-karya Sosialis-Sosialis utopis Thomas More (abad ke-16) dan Tommaso Campanella (abad ke-17). - Red.

 

5

Dari "Revolusi Dalam Pikiran dan Praktek", halaman 21, sebuah nota yang dialamatkan kepada semua "kaum Republiken merah, Komunis dan Sosialis Eropa", dan dikirimkan kepada pemerintah sementara Perancis, 1848, dan juga "kepada Ratu Victoria serta para penasehatnya yang bertanggungjawab". (Catatan Engels).

 

6

Catatan, di tempat yang dikutip, halaman 22. (Catatan Engels).



 

 

Bab II

Dialektika

 

 

Dalam pada itu, bersama dengan dan sesudah filsafat Perancis abad ke-18 telah muncul filsafat Jerman baru, yang memuncak dengan Hegel. Jasanya yang terbesar ialah diangkatnya kembali dialektika sebagai bentuk tertinggi dari pemikiran. Ahli-ahli filsafat Yunani kuno semuanya dasarnya adalah dialektikus-dialektikus alamiah, dan Aristotel, orang intelek yang paling ensiklopedis di antara mereka, sudah menganalisa bentuk-bentuk yang paling esensiil dari pikiran dialektik. Di pihak lain, filsafat yang lebih baru, meskipun di dalamnya dialektika juga mempunyai eksponen-eksponen (wakil-wakil) yang brilian (misalnya, Descartes dan Spinoza), telah terutama lewat pengaruh Inggris, menjadi semakin tegang-kaku dalam apa yang dinamakan metode berpikir yang metafisik, yang hampir sama sekali menguasai juga orang-orang Perancis abad ke-18, setidak-tidaknya dalam karya khusus filsafat mereka. Di luar filsafat dalam arti yang terbatas, orang-orang Perancis meskipun demikian menghasilkan karya-karya agung tentang dialektika. Kita hanya perlu mengingatkan “Le Neveu de Rameau” (Kemenakan Rameau) dari Diderot dan karya Rousseau “Discours sur l'origine et les fondements de l'inégalité parmi les homes” (Uraian tentang Asal-usul dan Dasar dari Ketidaksamaan di kalangan Manusia). Di sini secara singkat kita tunjukkan watak yang esensiil dari dua cara berpikir ini.

Apabila kita perhatikan dan renungkan Alam pada umumnya, atau sejarah umat manusia atau aktivitet intelektuil kita sendiri, mula-mula kita lihat gambaran dari suatu kekacauan yang tak ada akhirnya dari hubungan-hubungan dan reaksi-reaksi, pergantian-pergantian dan kombinasi-kombinasi, di mana tak ada yang tetap apa, di mana dan sebagaimana telah adanya, tetapi segala-sesuatu bergerak, berubah, menjadi dan melenyap. Oleh karena itu, kita lihat mula-mula gambaran keseluruhannya dengan bagian-bagian individuilnya banyak-sedikitnya masih tinggal di latar belakang; kita lebih memperhatikan gerakan-gerakan, peralihan-peralihan, hubungan-hubungan daripada benda-bendanya yang bergerak, berkombinasi dan berhubungan. Konsepsi dunia yang primitif, naïf, tetapi pada dasarnya tepat ini adalah konsepsi filsafat Yunani kuno, dan pertama kali dirumuskan dengan jelas oleh Heraclitus: segala-sesuatu itu ada dan tiada, karena segala-sesuatu itu mengalir, senantiasa berubah, senantiasa menjadi dan melenyap.

Tetapi konsepsi ini, bagaimanapun juga tepatnya menyatakan watak umum dari gambaran gejala-gejala dalam keseluruhannya, tidaklah cukup untuk menerangkan detail-detail yang membentuk gambaran ini, dan selama kita tidak mengerti detail-detail ini, kita tidak mempunyai gagasan yang jelas tentang gambaran itu seluruhnya. Untuk mengerti tentang detail-detail ini kita harus melepaskannya dari hubungan alam atau hubungan sejarah mereka dan memeriksanya masing-masing ter-sendiri-sendiri, sifatnya, sebab-sebab khusus, akibat-akibatnya, dsb. Ini pertama-tama adalah tugas ilmu alam dan penelitian sejarah: cabang-cabang ilmu yang oleh orang-orang Yunani zaman klasik, atas alasan-alasan yang baik sekali, diturunkan ke kedudukan bawahan, karena mereka pertama-tama harus mengumpulkan bahan-bahan bagi ilmu-ilmu ini untuk dikerjakan. Sejumlah bahan alam dan sejarah tertentu harus dikumpulkan sebelum mungkin ada sesuatu analisa yang kritis, pembandingan dan penyusunan ke dalam golongan-golongan, susunan-susunan dan jenis-jenis. Karena itu, dasar-dasar dari ilmu alam eksak mula-mula dikembangkan oleh orang-orang Yunani pada periode Alexandria[1], dan kemudian, dalam Abad Pertengahan, oleh orang-orang Arab. Ilmu alam yang sejati mulai sejak dari pertengahan kedua abad ke-15, dan sejak itu ia telah maju dengan kecepatan yang senantiasa meningkat. Analisa Alam ke dalam bagian-bagiannya yang khusus, penggrupan proses-proses dan obyek-obyek alam yang berlain-lainan, ke dalam golongan-golongan tertentu, studi tentang anatomi intern dari badan-badan organik dalam bentuk-bentuk mereka yang bermacam-macam-inilah syarat-syarat fundamental bagi langkah-langkah raksasa dalam pengetahuan kita tentang Alam yang telah dibuat selama empat ratus tahun yang lalu. Tetapi cara kerja demikian ini juga telah meninggalkan pada kita sebagai warisan kebiasaan memandang obyek-obyek serta proses-proses alam terpisah-pisah, terasing dari hubungan mereka dengan keseluruhan yang maha besar; memandangnya dalam diam, tidak dalam gerak; sebagai tetap, bukan sebagai yang pada hakekatnya berubah-ubah, dalam kematiannya, bukan dalam kehidupannya. Dan ketika cara memandang hal-ihwal ini dipindahkan oleh Bacon dan Locke dari ilmu alam ke filsafat, ia melahirkan cara berpikir yang metafisik, sempit, yang khas bagi abad yang lalu.

Bagi seorang metafisikus, hal-ihwal dan pencerminan-pencerminan mereka di dalam pikiran, ide-ide, adalah terpisah-pisah, harus dipandang satu demi satu dan terasing satu sama lain, adalah obyek-obyek penyelidikan yang tetap, kaku, yang ditentukan sekali untuk selama-lamanya. Dia berpikir dalam antitese-antitese yang sama sekali tak terdamaikan. “Jalan pikirannya ialah ‘ya, ya; tidak, tidak’; karena apapun juga yang lebih daripada ini datang dari setan”. Baginya suatu hal-ihwal itu ada atau tidak ada, suatu hal-ihwal tidak bisa pada waktu yang sama adalah dia sendiri dan sesuatu yang lain. Positif dan negatif secara mutlak saling mengecualikan; sebab dan akibat berada dalam antitese yang kaku satu sama lain.

Sepintas lalu cara berpikir ini nampaknya bagi kita sangat gemilang, karena itulah yang dinamakan akal sehat. Hanyalah akal sehat, orang terhormatlah dia, di dalam empat tembok dari kerajaan kamar-duduknya sendiri, yang mengalami avontur-avontur yang sangat indah segera dia memberanikan diri memasuki dunia penelitian yang luas. Dan cara berpikir yang metafisik, yang dapat dibenarkan dan perlu seperti halnya dalam sejumlah bidang yang keluasannya berlain-lainan menurut sifat obyek penelitian yang khusus, cepat atau lambat mencapai suatu batas, yang di luar batas ini ia menjadi berat-sebelah, terbatas, abstrak, tenggelam dalam kontradiksi-kontradiksi yang tak terpecahkan. Dalam memandang satu-satu hal-ihwal, ia melupakan hubungan di antara mereka; dalam memandang keadaan mereka, ia lupa akan awal dan akhir dari keadaan itu; dalam memandang diam mereka, ia melupakan gerak mereka. Karena pohon tidak dapat melihat hutan.

Untuk maksud sehari-hari kita tahu dan dapat mengatakan, misalnya, apakah seekor hewan itu hidup atau tidak. Tetapi, setelah diperiksa lebih teliti, kita ketahui bahwa hal ini, dalam banyak hal, adalah suatu masalah yang sangat rumit, sebagaimana diketahui betul oleh para ahli hukum. Mereka telah memeras otak mereka dengan sia-sia untuk menemukan suatu batas rasionil yang di luar batas ini membunuh anak dalam kandungan ibunya merupakan suatu pembunuhan. Persis sama tidak mungkinnya untuk menentukan secara mutlak saat kematian, karena fisiologi membuktikan bahwa kematian bukanlah suatu gejala yang seketika itu juga, yang sekejap mata, melainkan suatu proses yang lama sekali.

Begitu juga, setiap keadaan organik pada setiap saat adalah yang itu juga dan bukan yang itu juga; setiap saat ia mengasimilasi materi yang disediakan dari luar, dan membebaskan diri dari materi lain; setiap saat beberapa sel dari badannya mati dan sel-sel lain membentuk diri lagi; dalam waktu yang lama atau pendek materi dari badannya diperbaharui sama sekali dan diganti oleh molekul-molekul materi lain, sehingga setiap keadaan organik adalah senantiasa dia sendiri dan juga sesuatu yang lain daripada dia sendiri.

Selanjutnya, setelah menyelidiki lebih teliti kita ketahui, bahwa kedua kutub dari suatu antitesis, positif dan negatif, misalnya, adalah sama tak terpisahkannya sebagaimana mereka itu juga saling bertentangan, dan bahwa kendatipun segala pertentangan mereka, mereka saling menyusup. Dan, begitu juga, kita ketahui bahwa sebab dan akibat adalah konsepsi-konsepsi yang hanya berlaku dalam penerapan mereka pada satu-satu hal; tetapi segera sesudah kita perhatikan satu-satu hal itu dalam hubungan umum mereka dengan alam-dunia sebagai keseluruhan, mereka saling bertumbuk, dan mereka menjadi campur-aduk apabila kita pandang aksi dan reaksi yang universal di mana sebab dan akibat secara langgeng bertukar tempat, sehingga apa yang merupakan akibat di sini dan sekarang akan menjadi sebab di sana dan pada waktu itu, dan vice versa (sebaliknya).

Dari proses-proses dan cara-cara berpikir ini tidak ada yang masuk rangka berpikir secara metafisik. Dialektika, sebaliknya, memahami hal-ihwal-hal-ihwal serta gambarannya, ide-ide mereka, dalam hubungan, rangkaian, gerak, awal dan akhir mereka yang hakiki. Karena itu, proses-proses seperti yang tersebut di atas adalah sebegitu banyak pembenaran dari metode prosedurnya sendiri.

Alam adalah bukti dialektika, dan harus dikatakan tentang ilmu modern bahwa ia telah melengkapi bukti ini dengan bahan-bahan yang sangat kaya yang bertambah banyak setiap hari, dan dengan demikian telah menunjukkan bahwa pada tingkatan yang terakhir Alam berlaku secara dialektik dan tidak secara metafisik; bahwa ia tidak bergerak dalam kesatuan abadi dari suatu lingkaran yang berulang terus-menerus, tetapi mengalami evolusi historis yang nyata. Dalam hubungan ini Darwin harus yang pertama-tama disebut sebelum semua lainnya. Dia telah memberikan pukulan yang paling berat kepada konsepsi metafisik tentang Alam dengan pembuktiannya bahwa semua keadaan organik, tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia sendiri, adalah hasil dari suatu proses evolusi yang berlangsung selama jutaan tahun. Tetapi kaum naturalis yang telah belajar berpikir secara dialektik sedikit dan jarang, dan bentrokan antara hasil-hasil penemuan dengan cara berpikir yang sudah berprasangka ini menerangkan kekacauan yang tiada habisnya yang sekarang sedang berkuasa dalam ilmu alam teoritis, keputusasaan baik para guru maupun para siswa, keputusasaan para penulis dan juga pada pembaca.

Karena itu suatu penggambaran yang tepat tentang alam-dunia, tentang evolusinya, tentang perkembangan umat manusia dan tentang pencerminan evolusi ini dalam pikiran manusia, dapat diperoleh hanya dengan metode dialektika dengan perhatiannya tetap pada aksi-aksi dan reaksi-reaksi yang tak terhitung banyaknya dari hidup dan mati, dari perubahan-perubahan yang progresif dan yang mundur. Dan dalam semangat inilah filsafat Jerman yang baru itu telah bekerja. Kant memulai kariernya dengan memecahkan sistem surya yang stabil dari Newton dan kelangsungannya yang abadi, sesudah dorongan permulaan yang terkenal itu sekali diberikan, menjadi hasil dari proses bersejarah, pembentukan matahari dan semua planet dari massa berkabut yang berputar. Dari sini dia bersamaan waktu menarik kesimpulan bahwa, andaikan ini asal sistem surya, kematiannya di masa depan akibat keharusan. Teorinya ini setengah abad kemudian telah dibuktikan secara matematik oleh Laplace, dan setengah abad sesudah itu spektroskop membuktikan adanya dalam ruang angkasa massa gas pijar yang sedemikian itu dalam berbagai tingkatan kondensasi.

Filsafat Jerman baru ini memuncak dengan sistem Hegel. Dalam sistem ini-dan di sinilah jasanya yang besar-untuk pertama kali seluruh dunia, dunia alam, dunia sejarah, dunia intelek, digambarkan sebagai suatu proses, yaitu, sebagai dalam senantiasa gerak, berubah, peralihan, berkembang; dan dilakukan percobaan untuk menyelidiki hubungan intern yang membuat semua gerak dan perkembangan ini suatu keseluruhan yang terus-menerus. Dari titik pandangan ini sejarah umat manusia tidak lagi tampak sebagai olakan liar dari tindakan-tindakan kekerasan yang tolol, yang semua sama-sama terkutuk di meja pengadilan dari akal filsafat yang matang dan yang sebaik-baiknya dilupakan secepat mungkin, tetapi sebagai proses evolusi manusia sendiri. Sekarang adalah tugas intelek untuk mengikuti kemajuan yang berangsur-angsur dari proses ini melalui semua jalannya yang berliku-liku, dan untuk mengusut hukum intern yang menembus semua gejalanya yang nampaknya kebetulan.

Bahwasanya sistem Hegel tidak memecahkan masalah yang dikemukakannya di sini tidaklah penting. Jasanya yang membikin-zaman ialah bahwa ia telah mengajukan masalahnya. Masalah ini adalah masalah yang tak seorangpun akan dapat memecahkannya. Meskipun Hegel-dengan Saint-Simon-merupakan pikiran yang paling ensiklopedis dari zamannya, namun dia adalah terbatas, pertama, karena keluasan pengetahuannya sendiri yang semestinya terbatas dan, kedua, karena keluasan serta kedalaman yang terbatas dari pengetahuan serta konsepsi-konsepsi abadnya. Pada batas-batas ini harus ditambahkan batas yang ketiga. Hegel adalah seorang idealis. Bagi dia pikiran-pikiran di dalam otaknya bukanlah gambar-gambar yang sedikit atau banyak abstrak dari benda-benda dan proses-proses yang sebenarnya, melainkan, sebaliknya, benda-benda dan evolusi mereka hanyalah merupakan gambar-gambar yang direalisasi dari “Ide”, yang ada di sesuatu tempat sejak selama-lamanya sebelum dunia ini ada. Cara berpikir ini telah menjungkirbalikkan segala-sesuatu, dan sama sekali berlawanan dengan hubungan yang sebenarnya dari benda-benda di dunia. Banyak kelompok fakta-fakta khusus dipahami dengan tepat dan cerdik oleh Hegel, namun, karena alasan-alasan yang baru saja diberikan, maka banyak yang dirusak, dibuat-buat, sukar, pendek kata, salah dalam hal detailnya. Sistem Hegel, dengan sendirinya, adalah suatu keguguran yang maha besar-tetapi ia juga merupakan yang terakhir dari yang semacam itu. Ia sebenarnya menderita kontradiksi intern dan yang tak dapat disembuhkan. Di satu pihak, dalilnya yang hakiki ialah konsepsi bahwa sejarah manusia adalah suatu proses evolusi yang, menurut kodratnya sendiri, tidak bisa mendapatkan batas intelektuilnya yang terakhir dengan penemuan sesuatu apa yang disebut kebenaran absolut. Tetapi, di pihak lain, ia menuntut sebagai hakekat dari kebenaran absolut itu sendiri. Sistem pengetahuan alam dan sejarah, yang meliputi segala-galanya, dan definitif untuk selama-lamanya, adalah suatu kontradiksi terhadap hukum fundamentil dari berpikir dialektik. Hukum ini, sesungguhnya, sekali-kali tidak mengecualikan tetapi, sebaliknya, meliputi ide bahwa pengetahuan sistematis tentang alam-dunia luar dapat membuat langkah-langkah raksasa dari abad ke abad.

Persepsi dari kontradiksi fundamentil dalam idealisme Jerman mesti menuju kembali kepada materialisme tetapi, nota bene, bukan kepada materialisme metafisik semata-mata, materialisme mekanis khas dari abad ke-18. Materialisme lama memandang semua sejarah yang telah lalu sebagai tumpukan kasar dari ketidakrasionilan dan kekerasan; materialisme modern melihat padanya proses evolusi umat manusia, dan bertujuan untuk menemukan hukum-hukumnya. Dengan orang-orang Perancis abad ke-18, dan bahkan dengan Hegel, berlaku konsepsi Alam dalam keseluruhannya, yang bergerak dalam lingkaran-lingkaran sempit dan tak berubah-ubah untuk selama-lamanya, dengan benda-bendanya di langit yang abadi, seperti diajarkan oleh Newton, dan dengan jenis-jenis organik yang tak dapat berubah-ubah, sebagaimana diajarkan oleh Linnaeus. Materialisme modern meliputi penemuan-penemuan yang lebih baru dari ilmu alam, yang menurut penemuan-penemuan itu Alam juga mempunyai sejarahnya dalam waktu, benda-benda di langit, seperti jenis-jenis organik yang di bawah syarat-syarat yang menguntungkan mendiami mereka, karena lahir dan musnah. Dan kalaupun Alam, dalam keseluruhannya, masih harus dikatakan bergerak dalam siklus-siklus yang berulang, siklus-siklus itu mengambil ukuran-ukuran yang tak terbatas lebih besarnya. Dalam kedua aspek itu, materialisme modern pada hakekatnya adalah dialektik, dan tidak lagi memerlukan bantuan dari semacam filsafat yang, bagaikan ratu, seolah-olah menguasai timbunan ilmu-ilmu selebihnya. Segera sesudah masing-masing ilmu yang khusus it harus membikin jelas kedudukannya dalam keseluruhan yang besar dari hal-ihwal dan dari pengetahuan kita tentang hal-ihwal itu, maka ilmu khusus mengenai keseluruhan ini adalah mubazir atau tidak perlu. Yang masih ada dari semua filsafat terdahulu ialah ilmu tentang pikiran dan hukum-hukumnya-logika formil dan dialektika. Segala-sesuatu lainnya termasuk dalam ilmu positif tentang Alam dan sejarah.

Akan tetapi, sedang revolusi dalam konsepsi Alam dapat dilakukan hanya jika seimbang dengan bahan-bahan positif yang bersesuaian yang diberikan oleh penelitian, sudah-jauh lebih dulu fakta-fakta sejarah tertentu telah terjadi yang menuju kepada perubahan yang menentukan dalam konsepsi sejarah. Dalam tahun 1831, pemberontakan kelas buruh yang pertama terjadi di Lyon: antara 1838 dan 1842, gerakan kelas buruh nasional yang pertama, yaitu gerakan kaum Cartis di Inggris, mencapai puncaknya. Perjuangan kelas antara proletariat dengan borjuasi tampil ke muka dalam sejarah negeri-negeri yang paling maju di Eropa, seimbang dengan perkembangan, di satu pihak, dari industri modern, di lain pihak, dari kekuasaan politik borjuasi yang baru diperoleh. Fakta-fakta makin lama makin kuat menunjukkan kebohongan ajaran-ajaran ekonomi borjuis tentang persamaan kepentingan kapital dan kerja, tentang keselarasan universal dan kemakmuran universal yang akan menjadi akibat dari persaingan yang tidak berkekang. Semua hal ini tidak lagi dapat dianggap sepi, seperti juga Sosialisme Perancis dan Inggris, yang merupakan pernyataan teori dari hal-hal itu, meskipun sangat tidak sempurna. Tetapi konsepsi sejarah idealis yang lama, yang belum didepak, tidak mengetahui apa-apa tentang perjuangan-perjuangan kelas yang berdasarkan kepentingan-kepentingan ekonomi, tidak mengetahui apa-apa tentang kepentingan-kepentingan ekonomi; produksi dan semua hubungan ekonomi nampak baginya hanya sebagai unsur-unsur yang kebetulan, bawahan dalam “sejarah peradaban”.

Fakta-fakta baru telah membikin penyelidikan baru mengenai seluruh sejarah yang lampau menjadi urgen. Kemudian nampak bahwa seluruh sejarah yang lampau, terkecuali tingkatan-tingkatan primitifnya, adalah sejarah perjuangan-perjuangan kelas; bahwa kelas-kelas masyarakat yang berperang ini adalah selamanya produk cara-cara produksi dan pertukaran-pendeknya, produk syarat-syarat ekonomi pada zamannya; bahwa struktur ekonomi masyarakat itu selamanya merupakan basis yang sesungguhnya, hanya bertolak dari sini kita dapat memberikan penjelasan yang terakhir tentang seluruh bangunan-atas dari lembaga-lembaga hukum dan politik maupun dari ide-ide keagamaan, filsafat dan ide-ide lainnya pada periode sejarah tertentu. Hegel telah membebaskan sejarah dari metafisika-dia telah membuatnya dialektis; tetapi konsepsinya tentang sejarah pada dasarnya idealis. Tetapi sekarang idealisme didesak dari tempat perlindungannya yang terakhir, filsafat sejarah; sekarang telah diajukan perlakuan yang materialis mengenai sejarah, dan telah ditemukan suatu metode untuk menerangkan “pengetahuan” manusia dengan “keadaan-keadaan"-nya, bukannya seperti dulu, menerangkan “keadaan-keadaan"-nya dengan “pengetahuan"-nya.

Sejak waktu itu Sosialisme tidak lagi merupakan suatu penemuan yang kebetulan dari otak cendikia ini atau itu, tetapi merupakan akibat yang mesti dari perjuangan di antara dua kelas yang berkembang dalam sejarah-proletariat dan borjuasi. Tugasnya tidak lagi membikin suatu sistem masyarakat sesempurna-sempurnanya, tetapi menyelidiki rangkaian kejadian-kejadian histori-ekonomi dari mana telah timbul sebagai keharusan kelas-kelas ini dan antagonisme mereka, dan menemukan alat-alat untuk mengakhiri konflik itu yang dengan begitu diciptakan dalam syarat-syarat ekonomi. Tetapi Sosialisme dari hari-hari terdahulu tidak bisa dipersatukan dengan konsepsi materialis ini sebagaimana konsepsi Alam dari kaum materialis Perancis tidak bisa dipersatukan dengan dialektika dan ilmu alam modern. Sosialisme dari hari-hari terdahulu tentu saja mengkritik cara produksi kapitalis yang sedang berlaku dan akibat-akibatnya. Tetapi ia tidak dapat menjelaskannya dan, karenanya, tidak dapat menguasainya. Ia hanya dapat menolaknya begitu saja sebagai buruk. Semakin keras Sosialisme terdahulu ini mencela penghisapan atas kelas buruh, yang tak dapat dielakkan di bawah kapitalisme, semakin kurang mampu ia menunjukkan dengan terang berupa apa penghisapan ini dan bagaimana timbulnya. Tetapi untuk ini perlulah-(1) mempertunjukkan cara produksi kapitalis dalam hubungan sejarahnya dan ketak-terelakkannya selama periode sejarah tertentu dan oleh karena itu juga mempertunjukkan keruntuhannya yang tak terelakkan; dan (2) menelanjangi watak hakikinya yang masih merupakan suatu rahasia. Hal ini telah dilakukan dengan penemuan nilai-lebih. Telah ditunjukkan bahwa perampasan atas kerja yang tak dibayar adalah dasar dari cara produksi kapitalis dan dari penghisapan atas buruh yang terjadi di bawah cara produksi kapitalis itu; bahwa kalaupun si kapitalis membeli tenaga-kerja buruhnya dengan nilainya yang sepenuhnya sebagai suatu barang dagangan di pasar, namun dia memeras lebih banyak nilai darinya daripada yang dia bayar untuknya; dan bahwa dalam analisa terakhir nilai-lebih ini merupakan jumlah-jumlah nilai dari mana ditimbun massa kapital yang senantiasa meningkat dalam tangan-tangan kelas yang bermilik. Asal-mula produksi kapitalis dan produksi kapital kedua-duanya dijelaskan.

Dengan dua penemuan besar ini, konsepsi sejarah materialis dan pembongkaran rahasia produksi kapitalis melalui nilai-lebih, kita berhutang budi kepada Marx. Dengan penemuan ini Sosialisme menjadi ilmu. Hal berikutnya ialah mengerjakan semua perincian serta hubungannya.

 

_______


Catatan

 

1

Periode Alexandria dari perkembangan ilmu meliputi periode yang merentang dari abad ke-3 S.M. sampai abad ke-7 M. Ia memperoleh nama itu dari kota Alexandria di Mesir, yang merupakan salah satu pusat yang terpenting dari hubungan ekonomi internasional pada waktu itu. Dalam periode Alexandria, matematika (Euclid dan Archimedes), geografi, astronomi, anatomi, fisiologi, dll., mencapai perkembangan besar.-Red.

 


 

 


BAB III:

Sejarah Materialisme (Belum Selesai)

( ....... )



Kaum buruh sedunia, bersatulah!

 

 

 

 

 

AFRIKAANS

Marx dan Engels

Indonesian